Agama bukan produk yang dapat disesuaikan dengan selera penggunanya. Agama adalah petunjuk yang justru mengajarkan manusia menyesuaikan dirinya kepada kebenaran.

Di zaman sekarang, hampir semua hal dapat disesuaikan dengan selera. Tampilan telepon genggam bisa diganti sesuka hati. Daftar lagu disusun mengikuti suasana hati. Kopi dapat dipesan dengan kadar gula, susu, dan es sesuai keinginan. Bahkan media sosial bekerja dengan algoritma yang terus belajar mengikuti preferensi penggunanya.

Tanpa disadari, cara berpikir itu perlahan merembes ke wilayah agama. Muncullah anggapan bahwa ajaran agama pun dapat dipilih, disusun, ditambah, bahkan dikurangi sesuai kebutuhan zaman atau selera pribadi. Agama diperlakukan layaknya aplikasi yang dapat diperbarui kapan saja.

Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan agar umatnya tidak terjebak pada cara berpikir semacam itu.

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sekilas hadis ini tampak sederhana. Selama berabad-abad ia dikenal sebagai hadis tentang bid'ah. Namun, jika dibaca lebih teliti, Rasulullah ﷺ justru tidak menggunakan kata ابتدع (ibtada'a, berbuat bid'ah). Beliau memilih kata yang berbeda, yaitu أحدث (aḥdatsa).

Di sinilah hadis ini menjadi jauh lebih menarik. Kebanyakan orang mengira persoalan utamanya terletak pada sesuatu yang "baru". Padahal, inti hadis ini bukan pada kebaruannya, melainkan pada wilayah tempat kebaruan itu dimasukkan.

Perhatikan frasa yang dipilih Rasulullah ﷺ:

فِي أَمْرِنَا هَذَا

Beliau tidak mengatakan, "dalam Islam" atau "dalam agama", melainkan, "dalam urusan kami ini." Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا ialah "agama dan syariat yang telah Allah ridhai bagi kita" (في ديننا وشرعنا الذي ارتضاه الله لنا). Karena itu, Nabi sedang berbicara tentang wilayah wahyu yang menjadi otoritas beliau, bukan sekadar ritual ibadah tertentu.

Kata أمر sendiri dalam bahasa Arab memiliki cakupan makna yang luas. Ia dapat berarti urusan, perkara, tatanan, sistem, bahkan otoritas. Pilihan diksi ini menunjukkan bahwa yang sedang dijaga oleh Rasulullah ﷺ bukan hanya satu jenis ibadah, melainkan keseluruhan bangunan ajaran Islam.

Barulah setelah menetapkan wilayah itu, Nabi menggunakan kata berikutnya:

أحدث

Inilah kata yang sering luput diperhatikan.

Secara linguistik, أحدث berasal dari akar kata ح د ث yang pada dasarnya berarti menghadirkan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Dalam pemakaian bahasa Arab, kata ini tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol. Ia juga dapat bermakna memasukkan, menimbulkan, menyebabkan, atau menghadirkan sesuatu ke dalam suatu tatanan yang telah ada.

Berbeda dengan itu, kata ابتدع lebih menekankan makna menciptakan sesuatu yang benar-benar baru tanpa contoh sebelumnya. Dalam bahasa Arab modern, kata ini bahkan lazim digunakan untuk penemuan, inovasi, atau kreasi.

Lalu mengapa Rasulullah ﷺ tidak menggunakan kata ابتدعKarena yang beliau persoalkan bukanlah kreativitas manusia. Nabi tidak anti kreativitas. Yang beliau persoalkan adalah memasukkan sesuatu ke dalam agama yang bukan berasal darinya.

Perhatikan kelanjutan hadis:

مَا لَيْسَ مِنْهُ

"...yang bukan bagian darinya."

Kalimat pendek ini menjadi pagar yang sangat tegas. Hadis ini tidak sedang memusuhi segala bentuk pembaruan. Islam tidak pernah melarang manusia mengembangkan teknologi, menciptakan metode pendidikan, menyusun sistem administrasi, ataupun melakukan penemuan ilmiah. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar manusia memakmurkan kehidupan.

Yang ditolak Nabi ialah ketika sesuatu yang tidak memiliki landasan dalam syariat kemudian diberi status seolah-olah ia memang bagian dari agama. Karena itu, penutup hadis menggunakan ungkapan yang sangat tegas:

فَهُوَ رَدٌّ

"...maka ia tertolak."

Menariknya, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan "ia haram" atau "ia sesat". Beliau menggunakan kata ردّ (radd), yang oleh para ulama dijelaskan sebagai amalan yang dikembalikan kepada pelakunya karena tidak sah dan tidak diakui sebagai bagian dari agama (mardudun 'ala fa'ilihi libuthlanihi wa 'adamil i'tidadi bihi).

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata baik atau buruk menurut penilaian manusia, melainkan apakah amalan itu memiliki legitimasi dari syariat atau tidakDi sinilah letak kebijaksanaan hadis ini.

Yang ditolak bukan semangat berbuat baik, melainkan menjadikan selera manusia sebagai sumber agama.

Pesan itu terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Kita hidup di era personalisasi. Hampir semua layanan menawarkan pilihan, bahkan mengajak pengguna berkata, "Sesuaikan dengan kebutuhan Anda." Lama-kelamaan muncul godaan untuk memperlakukan agama dengan cara yang sama: memilih yang disukai, mengabaikan yang terasa berat, lalu menambahkan apa yang dianggap lebih sesuai dengan selera zaman.

Padahal, agama bukanlah produk yang dibuat untuk mengikuti manusia. Justru manusialah yang dipanggil untuk bertumbuh mengikuti petunjuk agama. Di situlah letak perbedaan antara wahyu dan selera. Selera selalu berubah mengikuti ruang dan waktu. Hari ini sesuatu terasa benar, esok bisa dianggap usang. Sebaliknya, wahyu menjadi kompas yang menjaga manusia agar tidak tersesat oleh perubahan selera itu sendiri.

Larangan dalam hadis ini bukan berarti Islam kekurangan ruang untuk berkembang. Sebaliknya, ia lahir karena agama ini telah disempurnakan Allah. Sebagaimana firman-Nya:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ...

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu..." (QS. al-Mā'idah [5]: 3).

Oleh karena itulah, sekali lagi, rasulullah ﷺ tidak sedang menutup pintu kreativitas manusia. Beliau sedang menjaga agar kreativitas itu tidak melampaui batas-batas wahyu. Manusia dipersilakan berijtihad memahami agama, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban. Namun, manusia tidak diberi kewenangan untuk menulis wahyu baru atau menjadikan pendapat pribadinya sebagai bagian dari agama.

Di zaman ketika hampir semua hal dapat dikustomisasi, hadis ini mengingatkan satu batas yang tidak boleh dilampaui. Agama bukan produk yang dapat disesuaikan dengan selera penggunanya. Agama adalah petunjuk yang justru mengajarkan manusia menyesuaikan dirinya kepada kebenaran.