Agama tidak mulai tampak ketika kita pandai menasihati orang lain, melainkan ketika setiap nasihat lahir dari ketulusan menghendaki kebaikan, bukan dari keinginan untuk mengalahkan.


Hari ini hampir tidak ada yang lebih mudah daripada memberi nasihat. Dalam hitungan detik media sosial dipenuhi ceramah singkat, kutipan motivasi, video dakwah, hingga ribuan komentar yang mengatasnamakan kepedulian. Ironisnya, semakin banyak nasihat beredar, semakin mudah pula orang saling melukai. Kritik dibungkus sebagai nasihat. Sindiran disebut dakwah. Bahkan mempermalukan orang lain sering dianggap bagian dari amar makruf nahi munkar.

Barangkali persoalannya bukan karena kita kekurangan nasihat, tetapi karena mulai kehilangan makna nasihat itu sendiri. Rasulullah bersabda,

الدين النصيحة

"Agama adalah nasihat." (HR. Muslim)

Kalimat ini mengundang pertanyaan. Mengapa Rasulullah tidak mengatakan "agama adalah iman" atau "agama adalah ibadah", tetapi justru memilih kata nasihat?

Dalam bahasa Arab, an-naṣīḥah bukan pertama-tama berarti memberi petuah. Para ulama menjelaskannya sebagai “iradah al-khair li al-mansuh lah”, yaitu menghendaki kebaikan bagi orang yang dinasihati. Dengan demikian, inti nasihat bukanlah kepandaian berbicara, melainkan ketulusan hati. Dan itu dilakukan di ruang privat. Makanya, Imam al-Syafi'i menegaskan bahwa menasihati seseorang di depan publik sejatinya bukan nasihat. Sebaliknya sama saja dengan mempermalukanya.

Di sinilah kedalaman hadis ini. Seseorang dapat berbicara panjang lebar tentang agama tanpa sungguh-sungguh menghendaki kebaikan bagi orang lain. Sebaliknya, satu kalimat yang lahir dari hati yang tulus dapat menjadi nasihat yang mengubah kehidupan.

Ketika para sahabat bertanya, "Untuk siapa?", Rasulullah menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslim." Jawaban ini menunjukkan bahwa nasihat bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hidup yang mewarnai seluruh hubungan manusia.

Pesan itu terasa semakin relevan pada zaman media sosial. Tidak sedikit kritik yang lahir bukan untuk memperbaiki, tetapi untuk memenangkan perdebatan. Tidak sedikit pula ceramah yang lebih sibuk memperlihatkan siapa yang paling benar daripada menyelamatkan siapa yang sedang salah. Ketika ketulusan menghilang, nasihat kehilangan ruhnya. Yang tersisa hanyalah kata-kata.

Oleh karena itu, rasulullah merangkum agama hanya dengan satu kata, an-nashihah. Agama tidak mulai tampak ketika kita pandai menasihati orang lain, melainkan ketika setiap nasihat lahir dari ketulusan menghendaki kebaikan, bukan dari keinginan untuk mengalahkan.[]