Di media sosial, seseorang dapat dipuji setinggi langit hanya karena potongan video berdurasi satu menit. Esok harinya, orang yang sama bisa dicaci habis-habisan karena potongan video yang lain. Kita hidup di zaman ketika cuplikan lebih dipercaya daripada perjalanan, kesan lebih menentukan daripada kenyataan. Tanpa sadar, dunia digital melatih kita menjadi hakim yang gemar menjatuhkan putusan sebelum seluruh kisah selesai.

Padahal, Rasulullah telah mengingatkan bahaya cara berpikir seperti itu lebih dari empat belas abad yang lalu.

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ. فَوَالَّذِي لَا إِلٰهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

"Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan proses penciptaannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Setelah itu Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia menjadi orang yang celaka atau bahagia. Demi Allah, salah seorang di antara kalian dapat beramal seperti amalan penghuni surga hingga jaraknya dengan surga tinggal sehasta, lalu ketetapan Allah mendahuluinya sehingga ia beramal seperti amalan penghuni neraka dan akhirnya masuk ke dalamnya. Sebaliknya, seseorang dapat beramal seperti amalan penghuni neraka hingga jaraknya dengan neraka tinggal sehasta, lalu ketetapan Allah mendahuluinya sehingga ia beramal seperti amalan penghuni surga dan akhirnya masuk ke dalamnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sekilas, hadis ini tampak berbicara tentang proses penciptaan manusia, malaikat, dan takdir. Tidak sedikit pula yang memahaminya sebagai dalil bahwa segala sesuatu telah ditentukan, sehingga manusia seolah tidak memiliki ruang untuk berikhtiar.

Padahal, jika dibaca hingga kalimat terakhir, pusat pesan hadis ini justru bukan terletak pada bagaimana kehidupan dimulai, melainkan pada bagaimana kehidupan itu berakhir. Di situlah pesan yang paling sering luput dari perhatian.

Nabi tidak sedang mengajak kita menebak takdir Allah. Beliau justru sedang membongkar satu penyakit lama manusia yang hingga hari ini belum juga sembuh. Manusia terlalu cepat menyimpulkan seseorang hanya dari apa yang tampak di hadapan mata.

Hadis ini sering menimbulkan kegelisahan. Bagaimana mungkin seseorang yang sepanjang hidup beramal seperti penghuni surga justru berakhir di neraka? Bukankah itu terdengar tidak adil? Kegelisahan itu sebenarnya telah dijawab oleh Rasulullah sendiri melalui riwayat lain yang sering luput dari perhatian. Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

"Seseorang melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang tampak di mata manusia, padahal sejatinya ia termasuk penghuni neraka."

Perhatikan frasa yang sangat singkat itu:

فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ

"Menurut apa yang tampak di mata manusia."

Di sinilah letak persoalannya. Yang dinilai manusia hanyalah apa yang tampak. Manusia melihat salatnya, tetapi tidak melihat riya' yang mungkin bersembunyi di dalam hatinya. Manusia mendengar ceramahnya, tetapi tidak mengetahui niat yang melatarbelakanginya. Manusia menyaksikan kebaikannya, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana ia mengakhiri hidupnya. Sebab manusia hanya mampu menilai apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

Karena itulah, dalam tradisi Islam para ulama selalu berhati-hati memuji seseorang secara mutlak. Mereka lebih sering mengucapkan, "Semoga Allah menerima amalnya," daripada memastikan kedudukannya di sisi Allah. Bukan karena mereka meragukan kebaikan seseorang, melainkan karena mereka sadar bahwa wilayah batin adalah hak Allah semata, sementara manusia hanya diberi kemampuan menilai apa yang tampak. Kerendahan hati inilah yang perlahan mulai hilang ketika media sosial membuat kita merasa cukup mengenal seseorang hanya dari potongan-potongan kehidupannya.

Sebaliknya, seseorang yang sepanjang hidup dipandang buruk oleh masyarakat belum tentu berakhir dengan keburukan. Bisa jadi, pada saat-saat terakhir hidupnya, ia menemukan keikhlasan yang selama ini hilang. Ia bertobat dengan sungguh-sungguh, lalu Allah menutup hidupnya dengan husnul khatimah. Hadis ini tidak sedang mengajak manusia mengintip takdir Allah. Hadis ini sedang mengajarkan manusia agar rendah hati ketika menilai sesamanya.

Inilah penyakit yang semakin menguat pada zaman media sosial. Kita terbiasa menyimpulkan seseorang hanya dari potongan-potongan hidupnya. Satu video dianggap cukup untuk mengukur integritas seseorang. Satu kesalahan dianggap cukup untuk menghapus seluruh kebaikannya. Sebaliknya, satu kebaikan yang viral sering kali membuat seseorang diperlakukan seolah-olah ia telah selesai menjadi orang saleh.

Padahal kehidupan manusia bukan cuplikan berdurasi satu menit. Ia adalah perjalanan yang baru dapat dipahami ketika seluruh halamannya telah selesai ditulis. Maka, seyogyanya kita tidak tergesa-gesa memberi titik pada kisah yang masih ditulis oleh Allah.

***

Barangkali karena itulah para ulama terdahulu tidak pernah merasa aman dengan amalnya sendiri, sekaligus tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah. Mereka memahami bahwa kehidupan bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat dipuji manusia, melainkan siapa yang paling baik mengakhiri perjalanannya di hadapan Allah.

Kesadaran itu melahirkan kerendahan hati. Orang yang benar-benar memahami hadis ini tidak akan mudah menobatkan seseorang sebagai penghuni surga. Ia juga tidak tergesa-gesa memvonis orang lain sebagai penghuni neraka. Sebab yang diketahui manusia hanyalah potongan-potongan cerita, sedangkan halaman terakhirnya tetap berada dalam ilmu Allah.

Mungkin itulah sebabnya Rasulullah tidak mengajarkan kita menebak takdir, tetapi mengajarkan kita menjaga istiqamah. Sebab yang berada dalam kuasa kita bukanlah mengetahui bagaimana kisah ini akan berakhir, melainkan memastikan bahwa setiap hari kita menulis halaman yang lebih baik daripada kemarin.

Hidup bukanlah cuplikan berdurasi satu menit. Ia adalah sebuah perjalanan yang hanya boleh disimpulkan ketika Allah sendiri menuliskan kata "tamat".[]