Rasulullah ﷺ tidak hanya berbicara
tentang lisan yang berdoa. Beliau berbicara tentang makanan yang masuk ke dalam
tubuh, harta yang diperoleh, pakaian yang dikenakan, dan kehidupan yang
membentuk seseorang. Seolah-olah beliau hendak mengatakan bahwa doa bukan hanya
suara yang naik ke langit, melainkan juga jejak kehidupan yang ikut
menyertainya.
Namun, waktu berjalan. Harapan itu belum juga menjadi
kenyataan. Dalam keadaan seperti itu, tidak sedikit yang mulai mempertanyakan
dirinya sendiri. Apakah Allah tidak mendengar doanya? Apakah doanya kurang
panjang? Kurang khusyuk? Atau mungkin ada bacaan tertentu yang belum diamalkan?
Hadis kesepuluh dalam Arba'in Nawawi memberikan
jawaban yang tidak biasa. Rasulullah ﷺ justru menggambarkan seseorang yang, sekilas, memiliki hampir
semua alasan agar doanya dikabulkan. Ia sedang dalam perjalanan jauh. Dalam
banyak hadis lain, musafir termasuk salah satu golongan yang doanya mudah
dikabulkan oleh Allah. Keadaannya lusuh dan berdebu, tanda bahwa ia tidak
sedang menikmati kemewahan hidup. Kedua tangannya diangkat ke langit, sebuah
adab yang dianjurkan ketika berdoa. Bahkan lisannya terus mengulang, "Ya
Rabb... Ya Rabb..." Tidak ada kesan sombong. Tidak ada tanda-tanda
bahwa ia sedang bermain-main dengan doanya.
Kalau kita diminta menebak sebelum hadis itu selesai
dibacakan, mungkin hampir semua akan menjawab bahwa doa orang itu pasti
dikabulkan. Tetapi Rasulullah ﷺ
justru mengajak kita melihat ke tempat yang tidak terlihat ketika seseorang
sedang berdoa. Beliau berkata, makanan orang tersebut haram, minumannya juga haram,
pakaiannya pun haram. Bahkan tubuhnya tumbuh dari sesuatu yang haram.
Lalu Nabi menutup kisah itu dengan sebuah pertanyaan yang
terasa menyesakkan.
فأنى يستجاب لذلك؟
"Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"
Menariknya, Rasulullah ﷺ tidak berkata, "Doanya tidak akan
dikabulkan." Beliau justru menggunakan pertanyaan. Pertanyaan itu bukan
untuk Allah. Pertanyaan itu diarahkan kepada kita. Seakan-akan beliau ingin
berkata, "Masihkah engkau heran mengapa doa seperti itu belum menemukan
jalannya?"
Sering kali kita memperlakukan doa seperti sebuah peristiwa
yang berdiri sendiri. Kita memperindah cara berdoa, memilih waktu yang paling
mustajab, mencari tempat yang paling tenang, bahkan menghafal doa-doa terbaik.
Semua itu tentu baik. Tetapi hadis ini mengingatkan bahwa doa tidak lahir dari
ruang yang kosong. Ia tumbuh dari kehidupan yang kita jalani setiap hari.
Karena itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya berbicara tentang lisan yang
berdoa. Beliau berbicara tentang makanan yang masuk ke dalam tubuh, harta yang
diperoleh, pakaian yang dikenakan, dan kehidupan yang membentuk seseorang.
Seolah-olah beliau hendak mengatakan bahwa doa bukan hanya suara yang naik ke
langit, melainkan juga jejak kehidupan yang ikut menyertainya.
Di zaman sekarang, bentuknya tidak selalu sesederhana
makanan yang jelas-jelas haram. Bisa jadi seseorang rajin bersedekah, tetapi
hartanya diperoleh dengan memanipulasi laporan keuangan. Ada yang aktif
membantu pembangunan masjid, tetapi hak pekerjanya masih ditahan. Ada yang
tidak pernah meninggalkan salat berjemaah, tetapi dengan mudah menyebarkan
fitnah atau merusak nama baik orang lain. Kita berharap doa bekerja seperti
tombol yang dapat ditekan kapan saja, sementara kehidupan kita sendiri sering
bergerak ke arah yang berlawanan dengan nilai-nilai yang kita mohonkan.
Padahal doa bukan sekadar permintaan. Doa adalah cermin. Ia
memantulkan hubungan seseorang dengan Tuhannya, tetapi juga hubungannya dengan
sesama manusia.
Hadis ini tidak mengajak kita mencari doa yang lebih ampuh.
Ia mengajak kita menengok sesuatu yang lebih dekat: cara kita mencari rezeki,
memperlakukan orang lain, dan menjalani hidup sehari-hari. Sebab, boleh jadi
yang menghalangi doa bukanlah langit yang tertutup, melainkan hati yang belum
selesai membereskan apa yang ada di bumi.
Jadi, rahasia doa yang dikabulkan bukan pertama-tama terletak pada panjangnya permohonan yang kita panjatkan, melainkan pada kejujuran hidup yang menopang permohonan itu. Sebab, Allah tidak hanya mendengar kata-kata yang keluar dari lisan kita. Dia juga melihat kehidupan yang melahirkan kata-kata itu.[]

0Komentar