seseorang merendahkan dirinya karena kekayaan yang dimiliki orang lain. Bukan karena keluasan ilmunya, bukan karena kemuliaan akhlaknya, bukan pula karena keteladanan hidupnya, melainkan karena atribut dunia yang melekat padanya. Di situlah letak kritik Syaikh Nawawi. Yang dipersoalkan bukan harta, melainkan hati yang menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan manusia.

Kita hampir selalu menemukan adegan yang sama di banyak acara. Seorang ustaz, kiai, atau guru yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk belajar datang lebih dahulu. Puluhan tahun ia mengajar, menulis, dan berdakwah. Murid-muridnya tersebar di berbagai tempat, sementara pemikirannya menjadi rujukan di ruang-ruang kajian. Ketika memasuki aula, ia datang sendirian. Tidak ada pengawalan. Tidak ada iring-iringan. Tidak ada pula kamera yang menunggu kedatangannya. Ia menyalami beberapa orang, lalu mencari kursi yang masih kosong sebagaimana tamu lainnya.

Beberapa menit kemudian seorang pejabat memasuki aula. Suasana yang semula tenang mendadak berubah. Panitia bergegas menuju pintu masuk. Orang-orang spontan berdiri. Jalur menuju kursi depan dibuka. Beberapa orang berdesakan untuk menyalami, bahkan mencium tangannya. Telepon genggam terangkat dari berbagai sudut ruangan. Dalam hitungan detik, pusat perhatian berpindah. Bukan karena isi pidatonya telah didengar, bukan karena kebijaksanaannya telah diuji, melainkan karena jabatan yang sedang melekat padanya.

Tidak ada yang keliru menghormati seorang pejabat. Jabatan memang pantas dihargai sebagai amanah publik. Yang mengusik justru pertanyaan lain: mengapa penghormatan kepada ilmu sering kali tidak semeriah penghormatan kepada jabatan?

Pertanyaan yang sama dapat ditemukan di banyak tempat. Dalam sebuah rapat, usulan seorang akademisi sering berlalu tanpa banyak perhatian. Beberapa menit kemudian gagasan yang hampir sama diucapkan oleh orang yang memiliki posisi lebih tinggi. Kali ini semua mengangguk. Kalimat yang sama terdengar lebih meyakinkan, bukan karena isinya berubah, melainkan karena siapa yang mengucapkannya.

Baca Juga: Islam yang Belum Rampung

Di tempat lain, seorang kiai yang puluhan tahun membimbing masyarakat bisa menjadi pelengkap acara. Sementara tamu yang memiliki kekuasaan memperoleh sambutan paling meriah. Bahkan tidak jarang, orang yang ilmunya jauh lebih dalam justru menjadi bahan candaan untuk mencairkan suasana, sedangkan setiap ucapan orang yang memiliki jabatan disambut tawa dan tepuk tangan.

Fenomena seperti ini begitu akrab sehingga kita jarang mempertanyakannya. Kita mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya. Kita mengajarkan anak-anak untuk rajin belajar. Kita mengutip pepatah bahwa ilmu lebih berharga daripada harta. Namun dalam praktiknya, ukuran penghormatan sering kali bergerak ke arah yang berbeda.

Yang membuat seseorang lebih didengar bukan keluasan ilmunya, melainkan luasnya kewenangan. Yang membuat seseorang lebih dihormati bukan kebijaksanaannya, melainkan jabatannya. Yang membuat seseorang lebih mudah diterima bukan integritasnya, melainkan pengaruh yang dimilikinya.

Berabad-abad sebelum gejala ini menjadi begitu nyata, Syaikh Nawawi al-Bantani telah mengingatkannya melalui sebuah hikmah dalam Nashā'ih al-'Ibād.

ومن تواضع لغناه فقد ذهب ثلثا دينه

"Siapa yang merendahkan dirinya karena kekayaan seseorang, maka hilang dua pertiga agamanya."

Sepintas, nasihat ini hanya berbicara tentang kekayaan. Seolah-olah persoalannya selesai pada hubungan antara orang miskin dan orang kaya. Padahal inti pesannya jauh lebih dalam. Perhatikan kata yang dipilih Syaikh Nawawi, yaitu لغناه (karena kekayaannya). Dalam susunan kalimat ini, kekayaan bukan objek kritik. Yang dikritik adalah motif di balik sikap seseorang. Huruf lām pada frasa لغناه berfungsi sebagai lām al-ta‘līl, yakni menunjukkan sebab.

Artinya, seseorang merendahkan dirinya karena kekayaan yang dimiliki orang lain. Bukan karena keluasan ilmunya, bukan karena kemuliaan akhlaknya, bukan pula karena keteladanan hidupnya, melainkan karena atribut dunia yang melekat padanya. Di situlah letak kritik Syaikh Nawawi. Yang dipersoalkan bukan harta, melainkan hati yang menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan manusia.

Seandainya yang digunakan adalah kata مع غناه (bersama kekayaannya), maknanya hanya menunjukkan keadaan. Namun Syaikh Nawawi memilih لغناه. Pilihan ini menggeser makna dari sekadar keadaan menjadi sebab. Yang dicela bukan keberadaan harta, tetapi menjadikan harta sebagai alasan untuk merendahkan diri.

Kekayaan hanyalah salah satu bentuknya. Dalam kehidupan hari ini, atribut itu memiliki banyak wajah. Ia dapat berupa jabatan, kekuasaan, nama besar, popularitas, kedekatan dengan pusat pengaruh, atau apa pun yang membuat seseorang tampak lebih penting dibanding orang lain. Yang sedang dikritik Syaikh Nawawi bukanlah orang kaya, bukan pula pejabat. Yang dikritik adalah mentalitas yang mengukur kemuliaan manusia berdasarkan atribut dunia yang melekat padanya.

Mentalitas itu tidak datang tanpa kita sadari, pelan tapi pasti. Ia muncul ketika kita lebih cepat berdiri menyambut pejabat daripada menyambut orang yang berilmu; ketika pendapat yang sama terdengar lebih meyakinkan setelah diucapkan oleh orang yang memiliki jabatan; atau saat seragam lebih mudah dikenali daripada integritas.

Pemandangan di awal tulisan tadi sesungguhnya bukan sedang memperlihatkan siapa yang paling dihormati. Ia memperlihatkan ukuran kemuliaan yang –disadari atau tidak-- kita anut. Ketika ilmu harus menunggu pengakuan dari jabatan, ketika kebijaksanaan baru didengar setelah memperoleh kekuasaan, saat itulah timbangan kita telah bergeser.

Harta dapat berpindah tangan. Jabatan berakhir ketika masa amanah selesai. Popularitas memudar bersama perubahan zaman. Namun ilmu, akhlak, dan integritas tetap melekat pada seseorang bahkan ketika semua atribut dunia telah tanggal darinya.

Syaikh Nawawi al-Bantani mengingatkan bahwa yang hilang bukan sekadar sopan santun, melainkan cara kita memuliakan manusia. Sebab sebuah masyarakat tidak kehilangan arah ketika kekurangan orang kaya atau pejabat. Ia mulai kehilangan arah ketika berhenti memberi tempat terhormat kepada ilmu.[]