Di sinilah hijrah memperoleh makna yang sesungguhnya. Sering kali kita mengira hijrah adalah perpindahan tempat. Padahal Nabi justru mengubah pengertian itu menjadi perpindahan orientasi hidup.

Rasulullah ﷺ
membuka salah satu hadis paling agung dalam Islam dengan kalimat yang sangat
pendek, tetapi seakan merangkum seluruh perjalanan manusia, baik spiritual maupun jasmaniah.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا،
فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya,
dan setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah
karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang
siapa berhijrah karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena perempuan yang
ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya kepada apa yang ia tuju." (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
Para ulama menyebut hadis ini sebagai salah satu fondasi
terbesar syariat. Imam al-Syafi'i bahkan menilai hadis ini masuk ke dalam
sepertiga ilmu agama, karena hampir seluruh amal manusia selalu berhubungan
dengan niat. Menariknya, Nabi tidak mengatakan bahwa amal manusia ditentukan
oleh besar-kecilnya pekerjaan. Beliau juga tidak mengatakan bahwa Allah pertama
kali melihat hasil kerja seseorang. Yang pertama kali diletakkan Rasulullah
justru sesuatu yang sama sekali tidak terlihat, yaitu niat.
Di sinilah letak perbedaan antara penilaian manusia dan
penilaian Tuhan. Manusia hampir selalu memulai dari apa yang tampak. Kita
mengagumi orang karena kealehannya, jabatannya, kekayaannya, kepandaiannya,
atau (dalam konteks dunia virtual) banyaknya pengikut. Tuhan justru memulai
dari sesuatu yang tidak dapat difoto, tidak dapat direkam kamera, bahkan tidak
dapat dipastikan oleh orang lain. Lensa penilaian Tuhan itu bernaa niat.
Barangkali karena itu agama selalu mengajarkan kerendahan
hati. Sebab tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui mengapa seseorang
melakukan suatu pekerjaan. Dua orang bisa berdiri di saf yang sama. Gerakan
salatnya sama. Bacaan imam yang didengar sama. Tetapi, mungkin yang satu sedang
berjalan menuju Allah (al-hijrah ilaLlah; hijrah menuju Tuhan),
sementara yang lain sedang berjalan menuju pujian manusia. Dua orang bisa
sama-sama menjadi dosen. Sama-sama menulis buku. Sama-sama berceramah. Sama-sama
membangun pesantren.
Baca Juga: Islam yang Belum Rampung
Tetapi nilai seluruh pekerjaan itu bisa berbeda hanya karena
sesuatu yang tidak pernah dilihat manusia. Apa itu? Jawabannya singkat: niat.
Dalam kehidupan modern, godaan terbesar bukan lagi
meninggalkan amal. Justru sebaliknya, orang berlomba-lomba melakukan amal. Yang
semakin sulit ialah menjaga agar amal itu tetap menjadi milik Allah.
Media sosial membuat setiap kebaikan mudah diketahui. Ceramah
dapat ditonton jutaan orang. Sedekah dapat dipublikasikan. Pengajian dapat
dipotong menjadi video pendek. Semua itu baik. Tidak ada yang salah. Tetapi
Rasulullah ﷺ
mengingatkan bahwa ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada "berapa
banyak yang melihat?" Pertanyaannya adalah, "untuk siapa semua itu
dilakukan?"
Di sinilah hijrah memperoleh makna yang sesungguhnya. Sering
kali kita mengira hijrah adalah perpindahan tempat. Padahal Nabi justru
mengubah pengertian itu menjadi perpindahan orientasi hidup.
Seseorang bisa berpindah kota, tetapi belum tentu berpindah
tujuan. Seseorang bisa mengganti pakaian, tetapi belum tentu mengganti niat. Seseorang
bisa mengubah penampilan, tetapi masih tetap menjadi tawanan dunia.
Karena itu Rasulullah memberikan contoh yang sangat
manusiawi. Ada orang berhijrah demi Allah. Ada pula yang berhijrah demi
perdagangan atau demi menikahi seorang perempuan. Secara lahiriah, perjalanan
mereka sama. Langkah kaki mereka sama. Debu yang mereka injak pun sama. Yang
membedakan hanyalah sesuatu yang tidak terlihat, niat.
Di zaman ketika ukuran keberhasilan semakin ditentukan oleh
angka -- baik berupa jumlah pengikut, penonton, pembaca, maupun
jumlah suara -- hadis ini terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa ukuran
langit tidak pernah sama dengan ukuran bumi.
Pada akhirnya, manusia memang hidup dari apa yang dikerjakannya. Tetapi di hadapan Allah, manusia akan pulang bersama apa yang diniatkannya, sesuatu yang paling personal dalam diri manusia yaitu hati, sebagaimana ditegaskan para ulama mahaalunniyat al-qalbiu, tampat niat ada di dalam hati. Di tempat yang sunyi itulah, seluruh perjalanan menuju Allah dimulai.
0Komentar