Di sinilah hijrah memperoleh makna yang sesungguhnya. Sering kali kita mengira hijrah adalah perpindahan tempat. Padahal Nabi justru mengubah pengertian itu menjadi perpindahan orientasi hidup.







Ada banyak hal yang berubah dalam hidup manusia. Mulai cara berpakaian, berdakwah, belajar agama pun berubah. Bahkan ibadah kini dapat disiarkan secara langsung melalui layar telepon genggam. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak Nabi Muhammad mengucapkan sabdanya empat belas abad yang lalu: manusia tetap sulit membedakan antara bekerja dan/ atau beribdah (a'mal) karena Allah dan karena dirinya sendiri.

Rasulullah membuka salah satu hadis paling agung dalam Islam dengan kalimat yang sangat pendek, tetapi seakan merangkum seluruh perjalanan manusia, baik spiritual maupun jasmaniah.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa berhijrah karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya kepada apa yang ia tuju." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menyebut hadis ini sebagai salah satu fondasi terbesar syariat. Imam al-Syafi'i bahkan menilai hadis ini masuk ke dalam sepertiga ilmu agama, karena hampir seluruh amal manusia selalu berhubungan dengan niat. Menariknya, Nabi tidak mengatakan bahwa amal manusia ditentukan oleh besar-kecilnya pekerjaan. Beliau juga tidak mengatakan bahwa Allah pertama kali melihat hasil kerja seseorang. Yang pertama kali diletakkan Rasulullah justru sesuatu yang sama sekali tidak terlihat, yaitu niat.

Di sinilah letak perbedaan antara penilaian manusia dan penilaian Tuhan. Manusia hampir selalu memulai dari apa yang tampak. Kita mengagumi orang karena kealehannya, jabatannya, kekayaannya, kepandaiannya, atau (dalam konteks dunia virtual) banyaknya pengikut. Tuhan justru memulai dari sesuatu yang tidak dapat difoto, tidak dapat direkam kamera, bahkan tidak dapat dipastikan oleh orang lain. Lensa penilaian Tuhan itu bernaa niat.

Barangkali karena itu agama selalu mengajarkan kerendahan hati. Sebab tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui mengapa seseorang melakukan suatu pekerjaan. Dua orang bisa berdiri di saf yang sama. Gerakan salatnya sama. Bacaan imam yang didengar sama. Tetapi, mungkin yang satu sedang berjalan menuju Allah (al-hijrah ilaLlah; hijrah menuju Tuhan), sementara yang lain sedang berjalan menuju pujian manusia. Dua orang bisa sama-sama menjadi dosen. Sama-sama menulis buku. Sama-sama berceramah. Sama-sama membangun pesantren.

Baca Juga: Islam yang Belum Rampung

Tetapi nilai seluruh pekerjaan itu bisa berbeda hanya karena sesuatu yang tidak pernah dilihat manusia. Apa itu? Jawabannya singkat: niat.

Dalam kehidupan modern, godaan terbesar bukan lagi meninggalkan amal. Justru sebaliknya, orang berlomba-lomba melakukan amal. Yang semakin sulit ialah menjaga agar amal itu tetap menjadi milik Allah.

Media sosial membuat setiap kebaikan mudah diketahui. Ceramah dapat ditonton jutaan orang. Sedekah dapat dipublikasikan. Pengajian dapat dipotong menjadi video pendek. Semua itu baik. Tidak ada yang salah. Tetapi Rasulullah mengingatkan bahwa ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada "berapa banyak yang melihat?" Pertanyaannya adalah, "untuk siapa semua itu dilakukan?"

Di sinilah hijrah memperoleh makna yang sesungguhnya. Sering kali kita mengira hijrah adalah perpindahan tempat. Padahal Nabi justru mengubah pengertian itu menjadi perpindahan orientasi hidup.

Seseorang bisa berpindah kota, tetapi belum tentu berpindah tujuan. Seseorang bisa mengganti pakaian, tetapi belum tentu mengganti niat. Seseorang bisa mengubah penampilan, tetapi masih tetap menjadi tawanan dunia.

Karena itu Rasulullah memberikan contoh yang sangat manusiawi. Ada orang berhijrah demi Allah. Ada pula yang berhijrah demi perdagangan atau demi menikahi seorang perempuan. Secara lahiriah, perjalanan mereka sama. Langkah kaki mereka sama. Debu yang mereka injak pun sama. Yang membedakan hanyalah sesuatu yang tidak terlihat, niat.

Di zaman ketika ukuran keberhasilan semakin ditentukan oleh angka -- baik berupa jumlah pengikut, penonton, pembaca, maupun jumlah suara -- hadis ini terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa ukuran langit tidak pernah sama dengan ukuran bumi.

Pada akhirnya, manusia memang hidup dari apa yang dikerjakannya. Tetapi di hadapan Allah, manusia akan pulang bersama apa yang diniatkannya, sesuatu yang paling personal dalam diri manusia yaitu hati, sebagaimana ditegaskan para ulama mahaalunniyat al-qalbiu, tampat niat ada di dalam hati. Di tempat yang sunyi itulah, seluruh perjalanan menuju Allah dimulai.