dosa sering kali tidak dimulai ketika seseorang melakukan sesuatu yang haram. Dosa dimulai ketika ia berhenti merasa gelisah saat mendekati yang salah.

Ada masa ketika orang masih mudah merasa bersalah. Seorang pedagang yang tanpa sengaja menerima uang lebih akan berlari mengejar pembelinya. Seorang pegawai yang keliru menggunakan fasilitas kantor akan segera mengaku. Bahkan ada orang yang tidak bisa tidur semalaman hanya karena merasa telah menyakiti orang lain dengan satu kalimat.

Hari ini, pemandangan semacam itu terasa semakin jarang. Bukan karena manusia lebih sedikit melakukan kesalahan. Sebaliknya, kita justru semakin piawai berdamai dengan kesalahan. Kita semakin mudah menormalisasi “keadaan.” Yang dahulu membuat hati gelisah, sekarang dianggap lumrah; dan yang dulu membuat seseorang menundukkan kepala karena malu, kini bahkan dipamerkan tanpa beban. Perlahan-lahan, rasa tidak nyaman itu menghilang. Bukan karena kita semakin benar, melainkan karena kita semakin terbiasa.

Mungkin itulah kehilangan terbesar manusia modern. Bukan hilangnya pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk, melainkan hilangnya kemampuan untuk merasa gelisah ketika berada di dekat sesuatu yang buruk.

Rupanya Nabi Muhammad telah mengingatkan hal itu jauh sebelum para psikolog berbicara tentang tumpulnya nurani. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh cucunya, Hasan bin Ali, beliau bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

"Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu menuju sesuatu yang tidak membuatmu ragu."

Sekilas hadis ini tampak sederhana. Banyak orang memahaminya sebagai anjuran meninggalkan perkara syubhat. Pemahaman itu benar, tetapi belum menyentuh inti pesannya. Kunci hadis ini justru terletak pada satu kata: يَرِيبُكَ. Kata itu sering diterjemahkan "membuatmu ragu". Padahal dalam bahasa Arab, الرَّيْب  bukan sekadar keraguan biasa, melainkan keraguan yang disertai kegelisahan, ketidaktenangan, dan rasa tidak nyaman yang terus mengusik hati. Karena itu al-Qur'an tidak mengatakan lā syakka fīh—"tidak ada keraguan di dalamnya"—melainkan لَا رَيْبَ فِيهِ. Yang dinafikan bukan hanya keraguan akal, tetapi juga kegelisahan hati.

Dengan demikian, Nabi tidak sedang mengajarkan kita menjadi orang yang selalu curiga terhadap segala sesuatu. Beliau justru sedang mengajarkan agar kita tidak mengabaikan suara hati yang masih jujur, yang datang dengan bisikan sangat pelan. Ketika seseorang hendak menandatangani laporan yang angkanya terasa janggal; Ketika seorang dosen tergoda mencantumkan namanya dalam penelitian yang tidak pernah ia kerjakan; ketika seorang pegawai berkata, "Semua orang juga melakukannya." Begitu juga ketika sebuah berita terasa terlalu sensasional untuk langsung dibagikan, tetapi jari sudah terlanjur ingin menekan tombol kirim.

Pada saat-saat seperti itulah “al-rayb” datang menghadirkan kegelisahan kecil yang berkata, "Ada yang tidak beres." Sayangnya, manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membungkam suara itu. Mula-mula kita mencari alasan. Setelah itu kita mencari pembenaran. Lama-kelamaan, kita tidak lagi mendengar apa-apa. Bukan karena hati menjadi lebih tenang, melainkan karena nurani telah kehilangan kepekaannya.

Di sinilah letak kebijaksanaan hadis ini. Nabi tidak berkata, "Tunggu sampai jelas haram." Beliau juga tidak berkata, "Lakukan saja selama belum ada yang melarang." Beliau justru mengajak kita sebaliknya. Tinggalkan sesuatu yang membuat hati terusik, lalu pilih sesuatu yang membuat hati tenang.

Itulah sebabnya hadis ini tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Orang yang selalu mencari celah untuk membenarkan tindakannya lambat laun akan kehilangan kepekaan moral. Sebaliknya, orang yang menjaga kegelisahan nuraninya sedang menjaga benteng terakhir sebelum ia terjatuh ke dalam kesalahan yang lebih besar.

Kita hidup di zaman yang gemar mencari batas minimal. Selama belum melanggar aturan, semuanya dianggap aman. Selama tidak tertangkap, semuanya dianggap wajar. Selama tidak viral, semuanya dianggap selesai. Padahal agama tidak hanya mendidik manusia agar tidak melanggar hukum. Agama juga mendidik manusia agar memiliki hati yang peka. Nurani mengawasi manusia bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Oleh karena itu, dosa sering kali tidak dimulai ketika seseorang melakukan sesuatu yang haram. Dosa dimulai ketika ia berhenti merasa gelisah saat mendekati yang salah. Itulah mengapa Nabi tidak memerintahkan kita menunggu sampai jatuh. Beliau mengajarkan agar kita mendengarkan kegelisahan yang masih tersisa di dalam hati. Selama suara itu masih ada, jalan pulang belum tertutup. Sebab, sebelum seseorang kehilangan jalan yang benar, biasanya ia lebih dahulu kehilangan kegelisahan ketika berada di jalan yang salah.[]