Di zaman media sosial, pelajaran ini terasa semakin relevan. Kita hidup dalam budaya potongan. Potongan video, potongan pidato, potongan ayat, bahkan potongan hadis. Semuanya dapat menyebar dalam hitungan detik dan membentuk opini publik sebelum orang sempat membaca keseluruhannya. Yang tersisa bukan lagi makna, melainkan kesan.



Tidak banyak hadis yang lebih sering dikutip sepotong-sepotong daripada sabda rasulullah , "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia..." Kalimat itu berulang kali muncul dalam perdebatan tentang Islam. Ada yang mengutipnya untuk menuduh Islam sebagai agama yang disebarkan dengan pedang. Ada pula yang menghindari hadis ini karena khawatir tidak mampu menjelaskannya. Padahal, persoalan utamanya bukan terletak pada hadis itu sendiri, melainkan pada diri kita sendiri yang berhenti membaca sebelum hadisnya selesai.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada hadis. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering menyimpulkan sesuatu dari potongan informasi. Satu cuplikan video dianggap mewakili keseluruhan peristiwa. Satu kalimat dalam wawancara dijadikan dasar untuk menilai seseorang. Satu meme bahkan seakan suci seperti kalam ilahi yang tak terbantahkan. Padahal, sebuah kalimat yang dipotong dari konteksnya hampir selalu kehilangan makna yang sebenarnya. Ternyata, cara membaca hadis pun bisa mengalami nasib yang sama.

Perhatikan kalimat pertama hadis ini. Rasulullah bersabda:

أمرت أن أقاتل الناس

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia."

Banyak orang berhenti sampai di sini. Padahal, setiap kata dalam bahasa Arab memiliki bobot makna yang tidak selalu dapat digantikan oleh kata lain. Nabi tidak menggunakan kata أقتل  (aqtulu) yang berarti membunuh, melainkan أقاتل  (uqatilu) yang berarti memerangi. Perbedaan ini bukan sekadar variasi kosakata. Kata أقاتل menunjukkan adanya situasi konfrontasi antara dua pihak (lil musyarakah baina isnain fa aksara). Ia menggambarkan keadaan peperangan, bukan tindakan membunuh secara sepihak terhadap siapa pun yang berbeda keyakinan.

Namun, di sinilah letak persoalan berikutnya. Kata الناس juga sering dipahami secara serampangan. Secara harfiah memang berarti manusia. Akan tetapi, para ulama sejak masa awal telah menjelaskan bahwa kata umum dalam bahasa Arab tidak selalu dimaksudkan untuk seluruh cakupannya. Dalam ilmu usul fikih dikenal kaidah

العام يراد به الخاص

yaitu lafaz yang berbentuk umum tetapi yang dimaksud adalah kelompok tertentu. Karena itu, kata الناس  dalam hadis ini merujuk kepada kaum musyrik Arab yang ketika itu memerangi dan menghalangi dakwah Islam. Hadis ini tidak sedang menetapkan hubungan permanen antara umat Islam dengan seluruh umat manusia. Ia berbicara dalam konteks konflik yang memang sedang berlangsung pada masa itu.

Pemahaman ini menjadi semakin jelas apabila kita tidak berhenti pada bagian awal hadis. Rasulullah melanjutkan sabdanya hingga mencapai tujuan yang sering terabaikan.

فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم

"Apabila mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku."

Inilah sebenarnya puncak hadis tersebut. Perhatikan pilihan kata yang digunakan Nabi . Beliau tidak mengatakan bahwa mereka harus diperangi tanpa batas. Justru beliau menggunakan kata عصموا. Kata ini berarti dilindungi, dipelihara, atau dijaga. Fokus hadis bergeser dari peperangan menuju perlindungan. Dengan kata lain, peperangan bukanlah tujuan, melainkan keadaan yang harus diakhiri agar kehidupan manusia kembali terlindungi.

Inilah pesan utama yang sering luput dari mata pembaca.

Banyak orang membaca hadis ini dengan menekankan kata أقاتل  pada awal kalimat, tetapi melupakan kata عصموا  pada bagian akhirnya. Padahal, jika kita mengikuti alur sabda Nabi secara utuh, kita akan melihat bahwa tujuan akhirnya bukan pertumpahan darah, melainkan terjaminnya darah dan harta manusia.

Hal yang sama ditegaskan lagi pada penutup hadis.

وحسابهم على الله

"Perhitungan mereka berada di tangan Allah."

Kalimat ini tampak singkat, tetapi maknanya sangat dalam. Rasulullah sedang mengajarkan batas kewenangan manusia. Yang menjadi urusan manusia hanyalah apa yang tampak dalam kehidupan sosial. Adapun isi hati, keikhlasan, dan keyakinan seseorang bukanlah wilayah yang dapat dihakimi oleh manusia. Semua itu dikembalikan kepada Allah.

Kalimat penutup ini juga menjadi pengingat agar agama tidak berubah menjadi alat untuk mengadili isi hati orang lain. Sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik justru lahir ketika manusia “mengambil alih” peran Tuhan. Mereka merasa mampu menentukan siapa yang paling beriman dan siapa yang paling pantas dihukum. Padahal, Nabi sendiri menutup hadis ini dengan menyerahkan urusan batin kepada Allah.

Karena itu, hadis ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang perang. Ia juga mengajarkan cara membaca teks agama dengan utuh. Sebab, tidak sedikit kesalahpahaman lahir bukan karena ajaran Islam sulit dipahami, melainkan karena kita mengambil satu bagian lalu mengabaikan bagian yang lain. Kita terpaku pada permulaannya, tetapi kehilangan arah yang hendak dituju.

Di zaman media sosial, pelajaran ini terasa semakin relevan. Kita hidup dalam budaya potongan. Potongan video, potongan pidato, potongan ayat, bahkan potongan hadis. Semuanya dapat menyebar dalam hitungan detik dan membentuk opini publik sebelum orang sempat membaca keseluruhannya. Yang tersisa bukan lagi makna, melainkan kesan.

Itulah sebabnya hadis ini tetap penting dibaca hingga hari ini, dan diartikulasikan sesuai dengan konteks kekinian. Bukan semata-mata karena berbicara tentang peperangan, tetapi karena mengingatkan kita bahwa memahami agama membutuhkan kesabaran untuk membaca sampai selesai. Sebab, terkadang yang mengubah wajah sebuah hadis bukanlah satu kata yang salah diterjemahkan, melainkan satu kalimat yang tidak pernah kita lanjutkan membacanya.[]