Ada orang yang baru membeli rumah. Hal pertama yang ia lakukan bukan memeriksa fondasi atau atapnya, melainkan memasang papan nama besar di depan rumah itu. Ketika musim hujan tiba, rumahnya bocor di mana-mana. Tetangganya bertanya, "Mengapa tidak diperbaiki?" Orang itu menjawab, "Yang penting semua orang tahu ini rumah saya."

Kadang-kadang, cara kita beragama tidak jauh berbeda. Kita sibuk membesarkan papan nama, tetapi lupa memastikan apakah rumah itu masih kokoh berdiri. Barangkali karena itulah Rasulullah tidak menggambarkan Islam sebagai kumpulan aturan yang harus dihafal, melainkan beliau memilih sebuah gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: rumah.

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

"Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadan."

Kebanyakan kita membaca hadis ini seperti membaca daftar isi. Ada lima rukun, lalu selesai. Padahal, jika diperhatikan lebih saksama, keindahan hadis ini justru terletak pada kata pertamanya: بُنِيَ (buniya), dibangun.

Secara linguistik, kata بُنِيَ berasal dari akar kata بنى, yang berarti membangun, mendirikan, atau menyusun sesuatu hingga menjadi sebuah bangunan yang utuh. Rasulullah dapat saja menggunakan kata yang bermakna mewajibkan atau menetapkan. Namun, beliau memilih metafora bangunan.

Pilihan kata itu bukan kebetulan. Dalam bahasa, setiap pilihan kata membawa cara berpikir. Ketika Nabi menggunakan kata بُنِيَ, beliau sedang mengajak kita memandang Islam bukan sebagai daftar kewajiban, melainkan sebagai sebuah bangunan yang setiap bagiannya saling menopang. Rumah tidak pernah berdiri karena satu tiang. Ia tegak karena setiap bagiannya menjalankan fungsi masing-masing. Begitu pula Islam.

Syahadat adalah fondasi. Ia ditanam jauh ke dalam hati. Fondasi memang tidak tampak, tetapi seluruh bangunan bergantung kepadanya. Salat adalah tiang yang menopang kehidupan. Karena itu shalat disebut juga dengan 'imād ad-dīn, tiang agama. Rumah tanpa tiang mungkin masih tampak berdiri untuk sementara, tetapi setiap saat menunggu runtuh.

Zakat adalah pintu dan jendela yang menghubungkan rumah dengan dunia di luarnya. Rumah yang tertutup rapat memang tampak aman, tetapi lama-kelamaan menjadi pengap. Begitu pula kehidupan beragama. Ketika seseorang hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri tanpa peduli kepada fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang tertinggal, rumah spiritualnya kehilangan udara kemanusiaan.

Puasa adalah dinding yang menjaga rumah dari terpaan hawa nafsu. Ia melatih manusia agar tidak diperbudak oleh keinginannya sendiri. Sebab musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

Adapun haji ibarat perabot yang melengkapi sebuah rumah. Rumah tetap dapat berdiri dan dihuni meskipun perabotnya belum lengkap. Orang tidak perlu memaksakan diri membeli meja, kursi, atau lemari ketika fondasi rumahnya saja belum kokoh. Begitu pula haji. Rasulullah memberikan syarat yang sangat jelas “liman istatha’a ilaihi sabila”, yakni bagi mereka yang benar-benar memiliki kemampuan.

Haji bukan perlombaan gengsi, bukan pula ukuran prestise sosial. Ia menjadi penyempurna ketika Allah telah melapangkan rezeki, memberikan kesehatan, dan membukakan jalan menuju Baitullah. Sebab rumah yang dipenuhi perabot hasil utang sering kali kehilangan ketenteramannya. Barangkali karena itu, al-Qur'an dan hadis tidak pernah menjadikan haji sebagai perlombaan siapa yang paling cepat berangkat, melainkan siapa yang benar-benar telah diberi kemampuan.

Rasulullah hanya menjelaskan di atas apa bangunan itu ditegakkan. Selebihnya, bagaimana bangunan itu dirawat menjadi tanggung jawab setiap muslim. Rumah yang tidak dirawat akan retak. Tiangnya mulai lapuk. Dindingnya mulai lembap. Dari luar mungkin masih tampak megah, tetapi sedikit guncangan saja cukup membuatnya roboh.

Bukankah demikian pula kehidupan beragama?

Tidak sedikit orang yang rajin berbicara tentang Islam, tetapi mudah marah ketika berbeda pendapat. Ada yang fasih mengutip ayat dan hadis, tetapi enggan menolong tetangganya. Ada pula yang sibuk menjaga simbol-simbol agama, sementara kejujuran, amanah, dan kasih sayang justru ditinggalkan di halaman rumahnya sendiri.

Masalahnya bukan karena rumah itu tidak pernah dibangun. Masalahnya, rumah itu berhenti dirawat. Di situlah hadis Nabi ini terasa sangat aktual. Rasulullah tidak sedang mengajarkan arsitektur bangunan. Beliau sedang mengajarkan arsitektur kehidupan. Bahwa agama bukan sekadar identitas yang dipasang di depan rumah, melainkan fondasi yang harus terus diperiksa, tiang yang harus terus ditegakkan, dan ruang yang harus terus dihidupkan oleh akhlak.

Kini kita memahami mengapa rasulullah tidak menggambarkan Islam sebagai daftar kewajiban, melainkan sebagai sebuah bangunan. Sebab sebuah rumah tidak cukup dibangun. Ia harus dihuni. Tidak cukup didirikan. Ia harus dirawat. Tidak cukup dibanggakan. Ia harus dihidupkan. Tidak cukup diwariskan. Ia harus terus diperbaiki.

Demikian pula Islam. Syahadat hanyalah peletakan batu pertamanya. Selebihnya adalah pekerjaan seumur hidup: membangun, merawat, dan memperbaiki diri. Barangkali karena itu, yang paling berat dalam Islam bukan mengucapkan syahadat. Yang paling berat adalah memastikan rumah itu tetap layak dihuni hingga napas terakhir. Sebab rumah yang roboh tidak pernah diawali oleh runtuhnya atap. Ia selalu dimulai dari retakan-retakan kecil yang dibiarkan begitu saja.[]