Rasulullah menjadikan kemampuan meninggalkan hal-hal yang tidak penting sebagai tanda baiknya Islam seseorang. Kualitas seorang Muslim tidak hanya tampak dari banyaknya amal yang ia kerjakan, tetapi juga dari kebijaksanaannya menjaga perhatian agar tidak dihabiskan oleh sesuatu yang tidak membawa manfaat.Setiap pagi kita membuat daftar pekerjaan. Ada surel yang harus dibalas, laporan yang harus diselesaikan, rapat yang harus dihadiri, buku yang ingin dibaca, keluarga yang perlu ditemani. Namun sebelum satu pun pekerjaan itu tersentuh, telepon genggam lebih dulu mengubah arah hari. Muncul berita yang sedang ramai. Ada video yang katanya wajib ditonton. Ada perdebatan yang terasa sayang dilewatkan. Ada komentar yang rasanya harus segera dibalas.
Satu
jam berlalu. Dua jam terlewatkan. Tiga jam waktu berjalan tak terasa dan daftar
pekerjaan masih utuh. Yang bertambah justru informasi yang tidak pernah kita
butuhkan. Ironisnya, hampir setiap orang mengeluhkan hal yang sama bahwa waktu
terasa semakin sempit. Waktu berlalu begitu cepat.
Padahal,
bisa jadi yang sebenarnya habis bukan waktu, melainkan perhatian. Kita hidup di
zaman ketika perhatian menjadi komoditas paling mahal. Setiap aplikasi, media
sosial, dan portal berita berlomba memperebutkannya. Semakin lama mata kita
bertahan di layar, semakin besar keuntungan yang mereka peroleh.
Tidak
mengherankan jika buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” karya Mark
Manson menjadi salah satu buku pengembangan diri paling berpengaruh dalam satu
dekade terakhir. Di balik judulnya yang provokatif, Manson mengajukan satu
gagasan sederhana, yaitu manusia tidak akan pernah memiliki cukup energi untuk
peduli kepada segala hal. Karena itu, hidup yang sehat bergantung pada
kemampuan memilih apa yang layak memperoleh perhatian.
Gagasan
itu terdengar modern. Padahal, lebih dari empat belas abad yang lalu Rasulullah
ï·º telah merumuskannya dalam satu kalimat
yang jauh lebih singkat.
Ù…ِÙ†ْ ØُسْÙ†ِ Ø¥ِسْÙ„َامِ الْÙ…َرْØ¡ِ تَرْÙƒُÙ‡ُ Ù…َا Ù„َا ÙŠَعْÙ†ِيهِ
"Di antara tanda baiknya Islam seseorang ialah meninggalkan
sesuatu yang tidak menjadi urusannya."
Hadis
ini sering dipahami sebagai larangan mencampuri urusan orang lain. Pemahaman
itu tidak keliru, tetapi belum menyentuh inti pesannya. Kuncinya justru
terletak pada frasa “… Ma la ya’nihi.”
Kataيعنيه berasal dari akar
kata عنى yang
berarti memberi perhatian, berkepentingan, atau memikul tanggung jawab terhadap
sesuatu. Jadi, Nabi tidak sekadar mengajarkan agar kita tidak usil terhadap
kehidupan orang lain. Beliau sedang mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar, kemampuan
memilih apa yang pantas memenuhi perhatian kita.
Perbedaan
ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Seseorang mungkin tidak
pernah ikut bergosip, tetapi pikirannya habis oleh berita yang tidak mengubah
hidupnya sedikit pun; Ia tidak mencampuri urusan tetangga, tetapi setiap hari
tenggelam dalam perdebatan politik yang tidak pernah ia ikuti secara serius; Ia
tidak menyebarkan fitnah, tetapi berjam-jam menghabiskan waktunya mengikuti
konflik orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Secara
lahiriah ia tidak mengganggu siapa pun. Namun perhatian yang seharusnya dipakai
untuk membangun dirinya sendiri telah habis di tempat lain. Di sinilah hadis
Nabi terasa sangat modern.
Islam
ternyata tidak hanya mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Islam
juga mengajarkan ke mana perhatian seharus kita dicurahkan. Jangan salah arah. Sebab
perhatian adalah pintu masuk bagi waktu, pikiran, dan akhirnya kehidupan itu
sendiri. Apa yang setiap hari memenuhi perhatian kita perlahan akan membentuk
cara berpikir, berbicara, bahkan cara kita memandang dunia.
Oleh
arena itu, hadis ini frase ما لا يعنيه pada hadis ke-12 dalam kitab “al-Arba’in
an-Nawawiyyah” ini mencakup seluruh gerak manusia. Mulai dari apa apa yang
diucapkan, dilihat, didengar, dipikirkan, hingga keputusan apa yang diambil.
Penjelasan itu terasa sangat relevan pada zaman sekarang. Di era digital,
perhatian tidak lagi hanya dicuri melalui percakapan, tetapi juga melalui
notifikasi, video pendek, judul sensasional, dan arus informasi yang tidak
pernah berhenti.
Akibatnya,
banyak orang merasa lelah tanpa benar-benar bekerja keras. Bukan karena
pekerjaannya terlalu banyak, melainkan karena pikirannya terlalu penuh. Ia
membawa pulang persoalan yang bukan tanggung jawabnya, memikirkan pendapat
orang yang tidak dikenalnya, marah kepada orang yang tidak pernah berbicara
dengannya, bahkan kehilangan waktu bersama keluarga karena sibuk mengikuti
kehidupan orang lain melalui layar.
Kita
sering mengira sedang mengikuti perkembangan zaman. Padahal, yang kita ikuti
hanyalah perkembangan hidup orang lain.
Hadis
ini tidak mengajak kita menjadi manusia yang apatis. Islam tidak pernah
mengajarkan sikap masa bodoh terhadap ketidakadilan, penderitaan, atau
persoalan masyarakat. Yang diajarkan adalah kebijaksanaan dalam membedakan
antara kepedulian dan rasa ingin tahu, antara tanggung jawab dan gangguan,
antara kontribusi dan sekadar komentar.
Tidak
semua hal harus diketahui. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak
semua komentar harus dijawab. Tidak semua berita layak dikonsumsi. Semakin
dewasa seseorang, semakin ia memahami bahwa hidup adalah seni memilih. Bukan
hanya memilih apa yang akan dikerjakan, tetapi juga memilih apa yang dengan
sadar tidak akan dikerjakan. Sebab setiap kali kita berkata "ya"
kepada sesuatu, pada saat yang sama kita sedang berkata "tidak"
kepada hal lain yang mungkin jauh lebih penting.
Itulah
sebabnya Rasulullah menjadikan kemampuan meninggalkan hal-hal yang tidak
penting sebagai tanda baiknya Islam seseorang. Kualitas seorang Muslim tidak
hanya tampak dari banyaknya amal yang ia kerjakan, tetapi juga dari
kebijaksanaannya menjaga perhatian agar tidak dihabiskan oleh sesuatu yang
tidak membawa manfaat.
Pada akhirnya, hidup memang tidak akan pernah selesai. Selalu ada berita baru, perdebatan baru, dan persoalan baru yang meminta perhatian kita. Yang menentukan kualitas hidup bukanlah kemampuan mengikuti semuanya, melainkan keberanian memilih. Sebab, hidup yang tenang bukan milik orang yang mengetahui segala sesuatu. Hidup yang tenang adalah milik orang yang tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya, lalu dengan lapang hati meninggalkan sisanya.[]

0Komentar