… hadis ke-13 dari kitab Arbain Nawawiyah sesungguhnya bukan sekadar pelajaran tentang persaudaraan. Ia adalah pelajaran tentang kebersihan hati. Tentang kemampuan melepaskan diri dari hasrat untuk selalu menjadi pusat perhatian. Tentang keberanian menerima bahwa Allah membagikan karunia-Nya dengan cara yang tidak selalu sama kepada setiap orang.



عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ

Artinya, dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu rasulullah SAW, dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bersabda: ”Salah seorang di antara kalian tidak bisa beriman dengan keimanan yang sempurna sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

 

Ada satu ujian hidup yang jarang dibicarakan orang. Bukan karena ujian itu langka, melainkan karena hampir semua orang pernah mengalaminya dan tidak nyaman untuk jujur mengakuinya. Ketika seorang teman lama diumumkan menjadi profesor, kita mengucapkan selamat. Ketika seorang kolega memperoleh penghargaan, kita ikut bertepuk tangan. Ketika sahabat berhasil menyelesaikan studi doktoralnya, kita juga menuliskan ucapan selamat di media sosial. Semua tampak baik-baik saja.

Namun kadang-kadang, jauh di sudut hati yang paling tersembunyi, muncul pertanyaan kecil yang tidak pernah diucapkan, "Mengapa dia?" Pertanyaan itu biasanya tidak tinggal lama. Ia datang sebentar lalu pergi. Tetapi kehadirannya cukup untuk menunjukkan bahwa hati manusia ternyata lebih rumit daripada yang sering kita bayangkan.

Kita mudah bersedih atas kegagalan diri sendiri. Itu wajar. Namun, ketika ternyata kita juga tidak turut bergembira atas keberhasilan orang lain, disitulah problemya. Dan dalam konteks inilah Nabi Muhammad meletakkan salah satu ukuran keimanan yang paling paling berat.

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."

Selama ini hadis tersebut sering dipahami sebagai ajakan untuk saling mencintai. Pemahaman itu tentu tidak salah. Namun bila dicermati lebih dalam, hadis ini sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar mencintai. Hadis ini berbicara tentang kemampuan menerima bahwa orang lain juga berhak memperoleh kebaikan yang sama dengan yang kita impikan.

Sebagian orang mengira bahwa lawan dari cinta adalah kebencian. Padahal dalam banyak keadaan, lawan dari cinta justru adalah keinginan untuk menjadi satu-satunya yang beruntung. Karena itu para ulama ketika menjelaskan hadis ini selalu menghubungkannya dengan penyakit hasad. Bukan tanpa alasan. Orang yang hasad tidak selalu ingin menghancurkan orang lain. Kadang ia hanya tidak nyaman melihat orang lain memperoleh nikmat yang tidak ia miliki.

Lebih menarik lagi, para ulama menjelaskan bahwa hasad sering kali tidak berhenti pada keinginan untuk menjadi lebih baik. Ia berkembang menjadi keinginan agar orang lain tidak memiliki kelebihan yang sama.

Seorang ulama besar, al-Karmani, menjelaskan bahwa iman yang sempurna juga menuntut seseorang membenci keburukan yang menimpa saudaranya sebagaimana ia membenci keburukan yang menimpa dirinya sendiri. Dengan kata lain, ukuran iman bukan hanya apa yang kita inginkan untuk diri kita, tetapi juga apa yang kita inginkan untuk orang lain.

Masalahnya, kehidupan modern justru bergerak ke arah yang berlawanan. Apalagi di dunia digital. Dulu seseorang membandingkan dirinya dengan beberapa tetangga atau teman sekampung. Hari ini ia membandingkan dirinya dengan ribuan orang setiap hari. Bahkan jutaan. Sebelum sarapan, ia sudah melihat foto teman yang baru membeli rumah, kolega yang memperoleh beasiswa, sahabat yang baru pulang umrah, dan seseorang yang mendapatkan jabatan baru.

Media sosial memang memudahkan kita mengetahui pencapaian orang lain. Tetapi pada saat yang sama, ia juga memperbesar peluang munculnya rasa iri yang sebelumnya tidak pernah ada. Kita hidup pada zaman ketika keberhasilan orang lain hadir di layar telepon genggam sepanjang hari. Akibatnya, banyak orang tanpa sadar mengukur hidupnya menggunakan prestasi orang lain sebagai penggaris. Padahal kebahagiaan tidak pernah tumbuh dari kebiasaan membandingkan.

Ada orang yang sebenarnya telah memperoleh banyak nikmat, tetapi tetap merasa kurang karena selalu melihat apa yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang karena mampu ikut bergembira ketika melihat orang lain mendapatkan kebaikan.

Mungkin karena itulah Nabi tidak menjadikan banyaknya ibadah sebagai satu-satunya ukuran kesempurnaan iman. Dalam hadis ini, beliau membawa iman ke wilayah yang lebih dalam, yaitu wilayah hati. Sebab seseorang dapat berdiri lama dalam salat malam, tetapi masih merasa terganggu ketika temannya sukses. Seseorang dapat rajin bersedekah, tetapi diam-diam tidak senang ketika orang lain memperoleh penghormatan yang lebih besar. Seseorang dapat fasih berbicara tentang persaudaraan, tetapi merasa berat ketika saudaranya mendapatkan kesempatan yang selama ini ia impikan.

Padahal iman yang matang melahirkan kelapangan jiwa. Ia membuat seseorang mampu berkata, "Ya Allah, tambahkan nikmat untuk saudaraku." Dan ia mengucapkannya bukan sekadar dengan lisan, melainkan dengan hati yang ikut bergembira. Inilah salah satu akhlak yang semakin langka di tengah budaya persaingan yang keras. Kita diajarkan untuk menjadi yang terbaik, tetapi sering lupa diajarkan untuk ikut bahagia ketika orang lain juga menjadi yang terbaik.

Padahal dunia tidak pernah kekurangan ruang untuk kebaikan. Keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi bagian kita. Rezeki seseorang tidak memotong rezeki tetangga atau koleganya. Kemuliaan orang lain tidak mengurangi kemuliaan kita. Matahari tidak kehilangan cahayanya hanya karena ada bintang lain yang bersinar.

Karena itu, hadis ke-13 Arbain Nawawiyah sesungguhnya bukan sekadar pelajaran tentang persaudaraan. Ia adalah pelajaran tentang kebersihan hati. Tentang kemampuan melepaskan diri dari hasrat untuk selalu menjadi pusat perhatian. Tentang keberanian menerima bahwa Allah membagikan karunia-Nya dengan cara yang tidak selalu sama kepada setiap orang.

Dan mungkin, ukuran persaudaraan yang paling lurus bukanlah seberapa sering kita mengucapkan selamat kepada orang lain, melainkan seberapa tulus hati kita ketika mengucapkannya.[]