Negeri ini sering kekurangan orang yang mampu menahan diri untuk tidak terburu-buru berbicara. Kita menyaksikannya setiap hari. Satu kalimat ditulis di media sosial, lalu menjadi pertengkaran. Satu komentar dilemparkan, puluhan orang membalas. Satu perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Setelah itu, semua merasa dirinya paling benar dan lawannya paling perlu diberi pelajaran.

Di tengah suasana seperti itu, sebuah hadis Nabi Muhammad SAW terasa semakin dekat dengan kehidupan kita. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah tidak mengganggu tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini pendek. Tetapi justru karena pendek, ia seperti cermin kecil yang dapat memperlihatkan wajah kita sendiri. Ada tiga hal yang disebut Nabi: lisan, tetangga, dan tamu. Tiga hal yang tampaknya sederhana, tetapi jika diperhatikan lebih jauh, ketiganya merupakan fondasi kehidupan bersama.

Pertama, berkata baik atau diam. Nasihat ini terasa sederhana sampai kita membuka telepon genggam. Di sana kita menemukan betapa sulitnya manusia diam. Ada berita yang belum jelas, langsung dibagikan. Ada pendapat yang berbeda, segera dibalas. Ada orang melakukan kesalahan, fotonya disebarkan. Kadang kita bahkan ikut mengomentari perkara yang sebenarnya tidak kita pahami.

Telepon genggam memang kecil. Tetapi ia dapat membuat seseorang merasa memiliki mimbar sebesar stadion. Masalahnya bukan teknologi. Masalahnya adalah lisan yang sekarang memiliki jangkauan lebih panjang daripada sebelumnya.

Dulu, ucapan buruk mungkin hanya didengar beberapa orang di warung. Sekarang satu kalimat dapat berkeliling Indonesia sebelum orang yang mengucapkannya sempat menyadari bahwa ia keliru. Oleh karena itu, “… berkata baik atau diam” bukan ajaran untuk menjadi manusia yang pasif. Justru sebaliknya. Ia adalah latihan tanggung jawab.

Tidak semua yang benar harus diucapkan setiap saat. Tidak semua yang kita ketahui harus diumumkan. Tidak semua kesalahan orang lain membutuhkan komentar kita. Kadang-kadang diam bukan tanda bahwa kita tidak mempunyai pendapat. Diam adalah tanda bahwa kita tahu pendapat tidak selalu harus dipertontonkan.

Kedua, jangan menyakiti tetangga. Nabi tidak mengatakan hanya tetangga yang kita sukai. Ia juga tidak memberikan syarat bahwa tetangga harus memiliki pandangan politik, agama, atau kebiasaan yang sama dengan kita. Tetangga adalah orang yang hidup paling dekat dengan kita. Ia orang yang rumahnya mungkin hanya dipisahkan tembok. Ia yang kita jumpai ketika membuka pintu. Ia yang mungkin berbeda pilihan politik, berbeda kebiasaan, bahkan berbeda keyakinan.

Di sinilah ajaran agama bertemu dengan kenyataan Indonesia. Indonesia bukan rumah yang hanya dihuni oleh satu keluarga. Kita hidup dalam satu halaman besar yang dihuni banyak orang dengan latar belakang berbeda. Karena itu, kemampuan hidup berdampingan bukan sekadar keterampilan sosial. Ia merupakan kebutuhan.

Kita boleh berbeda pendapat tanpa harus saling mengganggu. Kita boleh berbeda keyakinan tanpa harus saling merendahkan. Kita boleh berbeda pilihan tanpa harus menjadikan tetangga sebagai musuh. Sebab masyarakat yang baik bukan masyarakat tanpa perbedaan. Tetapi, masyarakat yang mampu mengelola perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menyakiti.

Ketiga, memuliakan tamu. Ada sesuatu yang menarik dari pilihan kata Nabi. Beliau tidak hanya mengatakan menjamu tamu, tetapi yukrim, memuliakan. Memuliakan berarti lebih luas daripada menyediakan makanan. Ia berarti menerima orang lain dengan penghormatan.

Indonesia selama ini dikenal sebagai masyarakat yang ramah. Tetapi keramahan tidak cukup jika hanya diberikan kepada orang yang kita kenal. Justru kualitas sebuah masyarakat sering terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang datang dari luar lingkarannya.

Apakah pendatang dipandang sebagai ancaman? Apakah orang yang berbeda dianggap mengganggu? Apakah orang asing selalu dicurigai? Atau kita masih memiliki cukup keluasan hati untuk mengatakan: silakan datang, mari duduk, mari berbicara?

Tiga ajaran ini sebenarnya memiliki satu akar yang sama: iman harus terlihat dalam hubungan kita dengan manusia. Iman kepada Allah dan hari akhir tidak berhenti pada apa yang kita yakini di dalam hati. Ia mempunyai konsekuensi sosial. Orang yang percaya bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan akan lebih berhati-hati dengan lisannya. Orang yang percaya bahwa manusia memiliki kehormatan akan lebih berhati-hati memperlakukan tetangganya. Orang yang percaya bahwa kehidupan ini bukan milik dirinya sendiri akan lebih mudah memuliakan orang yang datang kepadanya.

Di sinilah hadis ini terasa penting bagi Indonesia hari ini. Kita tidak kekurangan perdebatan tentang agama. Kita juga tidak kekurangan orang yang berbicara tentang moral. Yang sering kurang justru hal-hal yang paling sederhana: menahan ucapan, tidak mengganggu orang yang hidup di sebelah kita, dan memperlakukan orang yang datang dengan hormat.

Padahal sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh undang-undang dan gedung-gedung pemerintahan. Ia juga dibangun oleh percakapan kecil di ruang keluarga, hubungan antarwarga di kampung, sikap terhadap tetangga, dan cara kita menerima orang yang berbeda.

Mungkin karena itu Nabi tidak memulai pembangunan masyarakat dari sesuatu yang rumit. Beliau memulainya dari mulut. Kemudian dari rumah sebelah. Lalu dari pintu rumah yang kita buka untuk orang lain.

Dan mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: kalau iman memang sudah membuat kita lebih dekat kepada Allah, apakah orang-orang yang hidup paling dekat dengan kita juga merasakan kedekatan itu? Jika tetangga merasa aman berada di sebelah rumah kita, jika tamu merasa dihormati ketika datang, dan jika orang lain tidak perlu takut mendengar ucapan kita, mungkin pada saat itulah iman mulai menemukan bentuknya dalam kehidupan. Sebab pada akhirnya, beragama dan beriman tidak hanya tentang apa yang kita percaya. Lebih dari itu tentang satu pertanyaan berikut: manusia seperti apakah kita ini?