... inilah yang sering kita lupakan. Kita sibuk meminta agar hidup menjadi lebih ringan, padahal yang lebih kita butuhkan adalah hati yang lebih jernih. Sebab, pekerjaan yang sama akan terasa berbeda ketika dijalani oleh hati yang tenang.
Ada satu kebiasaan dewasa ini yang pelan tapi pasti mengubah cara kita menjalani hidup. Begitu membuka mata, tangan lebih dulu meraih telepon genggam. Notifikasi diperiksa, pesan dibalas, berita dibaca, lalu aktifitas harian dimulai dengan tergesa-gesa. Belum sempat menyapa diri sendiri, kita sudah disambut oleh urusan orang lain sehingga banyak orang merasa lelah bahkan sebelum benar-benar memulai pekerjaannya.Imam
Nawawi al-Bantani dalam Nashā'ih al-'Ibād mengutip sebuah hikmah yang
sederhana tetapi mengusik.
من
أصبح لا ينوي إلا الله كفاه الله ما يكدره ويشغله من أمر الدنيا
"Siapa
yang memasuki pagi hari dengan niat hanya karena Allah, niscaya Allah akan
mencukupkannya dari segala sesuatu yang mengeruhkan dan menyibukkannya dalam
urusan dunia."
Baca Juga Niat: Sesuatu yang Tidak Pernah Dilihat Manusia
Kalimat
ini menarik bukan hanya karena pesannya, tetapi juga karena pilihan katanya.
Hikmah ini tidak menggunakan kata استيقظ (istaiqadza) yang berarti "bangun
tidur", melainkan أصبح (asbaha; memasuki
pagi). Perbedaannya tampak kecil, tetapi maknanya jauh lebih luas. Yang sedang
dibicarakan bukan sekadar saat seseorang membuka mata, melainkan bagaimana ia
memasuki hari yang baru. Sebab, pagi bukan hanya pergantian waktu. Lebih dari
itu, ia merupakan penentuan arah.
Ada
kata lain yang patut diperhatikan, yaitu يكدره (yakdiruh). Kata ini sering diterjemahkan
sebagai "mengganggu". Padahal akar katanya, kadara, berarti
sesuatu yang keruh, tidak jernih. Air yang bening memungkinkan kita melihat
dasar sungai. Air yang keruh membuat semuanya tampak samar. Begitu pula hati
manusia. Yang melelahkan kita sering kali bukan banyaknya pekerjaan, melainkan
hilangnya kejernihan ketika menghadapi pekerjaan itu.
Kita
kerap mengira sumber keresahan adalah dunia yang terlalu sibuk. Padahal, dunia
memang sejak dulu sibuk. Yang berubah adalah cara kita menyambutnya. Kita
memasuki pagi dengan pikiran yang sudah penuh sebelum sempat memberi ruang bagi
hati untuk bernapas. Akibatnya, bukan pekerjaan yang menguasai waktu kita,
melainkan kecemasan yang menguasai pekerjaan itu.
Karena
itulah, hikmah ini tidak menjanjikan hidup tanpa persoalan. Ia juga tidak
mengatakan bahwa orang yang memulai pagi dengan mengingat Allah akan terbebas
dari rapat, tagihan, tenggat waktu, atau masalah keluarga. Yang dijanjikan
adalah sesuatu yang lebih mendasar bahwa Allah akan mencukupkan kita dari
hal-hal yang mengeruhkan hati.
Barangkali
inilah yang sering kita lupakan. Kita sibuk meminta agar hidup menjadi lebih
ringan, padahal yang lebih kita butuhkan adalah hati yang lebih jernih. Sebab,
pekerjaan yang sama akan terasa berbeda ketika dijalani oleh hati yang tenang.
Masalah yang sama pun tidak lagi tampak sebesar sebelumnya ketika batin tidak
dipenuhi kegelisahan.
Pada
akhirnya, hidup tidak selalu ditentukan oleh apa yang terjadi sepanjang hari.
Ia lebih sering ditentukan oleh siapa yang pertama kali memenuhi hati kita
ketika hari itu dimulai. Jika sejak pagi dunia telah mengambil seluruh
perhatian kita, jangan heran apabila dunia pula yang menguasai suasana hati
kita hingga malam. Namun, jika pagi diawali dengan mengarahkan hati kepada
Allah, dunia tetap datang dengan segala kesibukannya, tetapi tidak lagi
memiliki kuasa untuk mengeruhkan batin.
Mungkin
karena itulah, pagi bukan sekadar awal hari. Pagi adalah awal cara kita
memandang hari. Dan sering kali, di sanalah seluruh perjalanan hari itu
ditentukan.[]

0Komentar