Ironisnya, kita sering lebih keras daripada agama itu sendiri. Kita menuntut diri sendiri menjadi sempurna sebelum memulai, lalu menuntut orang lain menjadi sempurna sebelum kita menerimanya. Akibatnya, banyak orang memilih menjauh karena merasa agama hanya milik mereka yang sudah selesai.
Ada kebiasaan yang menarik di tengah masyarakat kita. Banyak orang menunda berbuat baik karena merasa dirinya belum pantas. Ada yang berkata, "Nanti kalau sudah benar-benar bisa istiqamah, saya akan salat berjemaah." Yang lain berkata, "Kalau belum bisa meninggalkan semua maksiat, buat apa mulai berhijab?" Seolah-olah agama baru menerima seseorang setelah ia lulus menjadi manusia sempurna.
Padahal, kalau menunggu sempurna, mungkin tidak ada seorang
pun yang benar-benar siap dan/ atau menunaikan syariat Tuhan.
Barangkali karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan satu
kaidah yang sederhana, tetapi sangat menenangkan. Beliau bersabda,
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Apa yang aku larang, tinggalkanlah. Dan apa yang
aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian."
Sepintas, hadis ini terdengar biasa. Namun, kalau
diperhatikan lebih saksama, ada sesuatu yang menarik. Mengapa ketika berbicara
tentang larangan Nabi hanya berkata, "tinggalkanlah", tetapi
ketika berbicara tentang perintah beliau menambahkan kalimat, "semampu
kalian"?
Di situlah tampak bagaimana agama memahami kodrat manusia. Syariat
tahu bahwa melakukan sesuatu sering kali membutuhkan tenaga, biaya, waktu,
kesehatan, bahkan keberanian. Tidak semua orang mampu berdiri lama ketika
salat. Tidak semua orang memiliki harta untuk berhaji. Tidak semua orang
memiliki kemampuan yang sama dalam beribadah. Karena itu, agama memberi ruang
bernama kemampuan.
Tetapi larangan berbeda. Untuk tidak mencuri, seseorang
tidak memerlukan biaya. Untuk tidak berdusta, seseorang tidak membutuhkan
kekuatan fisik. Untuk tidak memfitnah, seseorang hanya perlu menahan lidah.
Meninggalkan memang sering lebih mudah daripada melakukan. Karena itu, Nabi
tidak mengatakan, "Tinggalkan larangan semampu kalian."
Larangan memang tidak mengenal tawar-menawar.
Akan tetapi, jangan tergesa-gesa menarik kesimpulan bahwa
agama hanya berisi daftar boleh dan tidak boleh. Yang lebih penting justru cara
agama memperlakukan manusia. Syariat tidak dibangun di atas angan-angan tentang
manusia yang tanpa cela. Ia diturunkan di atas kenyataan bahwa manusia memiliki
keterbatasan.
Oleh karena itu, Islam tidak pernah meminta seseorang
menjadi malaikat. Yang diminta hanyalah kesediaan untuk terus berjalan. Hari
ini mampu satu langkah, lakukan satu langkah. Besok mampu dua langkah,
tambahkan satu lagi. Jalan menuju kebaikan tidak diukur dari seberapa cepat
seseorang tiba, tetapi dari kesungguhannya untuk tidak berhenti.
Ironisnya, kita sering lebih keras daripada agama itu
sendiri. Kita menuntut diri sendiri menjadi sempurna sebelum memulai, lalu
menuntut orang lain menjadi sempurna sebelum kita menerimanya. Akibatnya,
banyak orang memilih menjauh karena merasa agama hanya milik mereka yang sudah
selesai.
Padahal, agama justru hadir untuk mereka yang belum selesai,
bahkan mereka yang baru memulai. Mungkin itulah sebabnya Rasulullah ﷺ tidak berkata, "Kerjakan
semuanya." Beliau berkata, "Kerjakan semampu kalian."
Sebuah kalimat yang mengandung pengertian bahwa Tuhan mengetahui kemampuan
setiap hamba-Nya lebih baik daripada siapa pun.
Baca Juga: Rumah Bernama Islam dan Ketika Batas Mulai Diabaikan
Kesempurnaan, tampaknya, bukan pintu masuk menuju agama.
Justru agama adalah jalan panjang yang menemani manusia menuju kesempurnaan
yang tidak pernah benar-benar selesai selama ia masih hidup.
Maka, yang paling dibutuhkan hari ini bukanlah lebih banyak orang yang merasa sudah sempurna. Melainkan lebih banyak orang yang berani memulai, meskipun baru semampunya. Sebab Tuhan tidak pernah meminta kita menjadi sempurna hari ini. Dia hanya meminta kita tidak berhenti melangkah.[]

0Komentar