Selain itu, kita tidak akan memahami hakikat ketuhanan-Nya kecuali mengimani asma-u-ul husna. Sebab, dalam sembilan puluh sembilan nama-Nya yang indah itu terdapat tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah SWT. Dengan menghayati sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang indah, keimanan pada Allah akan semakin kokoh.
الأول الإيمان بالله وصفاته وحدوث ما دونه
Pertama, iman kepada Allah, sifat-sifat-Nya, dan kebaruan makhluk-Nya.
Langkah pertama untuk
menyempurnakan iman adalah dengan mengimani Allah dan sifat-sifat-Nya, selain
itu, meyakini kebaruan selain Allah. Artinya, tidak ada yang menyekutui Allah
dalam ke-qadim-an-Nya. Sebab, Allah dahulu (qadim) tanpa
permulaan dan kekal tanpa akhir (al-baqa). Sehingga, jelas Allah tidak
sama dengan makhluk-nya yang hadis (baru), sederhananya: mukhalafatu
lil hawaditsi (Allah tidak sama dengan makhluk-makhluk-Nya yang tercipta
belakangan).
Iman terhadap Allah dan
sifat-sifat-Nya merupakan jenjang keimanan pertama bagi setiap mukmin. Sebagaimana
ditegaskan oleh nabi dalam H.R. Abi Hurairah r.a. berikut ini:
الإيمانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعْبَةً: فَأَفْضَلُهَا
قَوْلُ: لا إله إلا الله، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ،
وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ.
”Iman
itu memiliki tujuh puluhan lebih atau enam puluhan lebih cabang; cabang yang
paling utama ialah ucapan Lā ilāha
illallāh (tiada
Ilah yang berhak disembah selain Allah). Sedangkan cabang yang paling rendah
ialah menyingkirkan duri dari jalan. Bahkan memiliki rasa malu juga termasuk salah
satu cabang dari iman.”
Dari
hadis tersebut, jelas iman tidak hanya satu sifat atau satu cabang. Sebaliknya, ia
memiliki lebih banyak cabang, Sekitar tujuh puluh lebih, atau enam puluh dua,
tetapi iman tertinggi adalah satu kata: Lā ilāha
illallāh (Tidak ada Tuhan selain Tuhan). Adapun yang
paling rendah di antaranya semua cabang keimanan adalah menghilangkan setiap
hal yang mengganggu orang berjalan di jalan umum, baik itu batu, duri, atau
hal-hal lain dari jalan. Bahkan bersikap rendah hati juga termasuk salah satu
cabang iman.
Dalam pada
itu, beriman pada Allah tidak sebatas meyakini keberadaan-Nya. Lebih dari itu,
beriman pada Allah juga berarti meyakini sifat-sifat wajib bagi-Nya, selain itu
juga sifat-sifat yang muhal (tidak mungkin melekap pada Allah) dan sifat jaiz
(sifat yang boleh ada, boleh tidak ada pada dzat Allah). Seperti hadirnya
virus Covid-19 yang menjadi pandemi di seluruh bumi selama dua tahunan terakhir
ini.
Allah
bisa saja tidak menguji kita dengan virus ini, tapi ternyata Allah menguji
kesabaran kita dengan datangnya virus yang memaksa kita untuk menjaga jarak,
jauh dari teman dekat, bahkan kehilangan kerabat yang terkasih. Karena menciptakan
dan / atau tidak menciptakan sesuatu itu hak prerogatif Allah (fi’lu kulli
mumkinin aw tarkuhu).
Pertanyaan
sederhananya, mengapa harus mengimani juga sifat-sifat-Nya?
Bila iman
dikonseptualisasikan sebagai bangunan, maka sifat-sifatnya adalah sejumlah
pintu yang menjadi jalan bagi kita untuk masuk kedalam bangunan iman pada
Allah. Misalnya, sifat Mukholafatu Lil Hawaditsi (Allah tidak sesuai
dengan setiap makhluk-Nya). Ini menguatkan keimanan kita pada-Nya bahwa Allah
tidak sama dengan makhluk-Nya. Meskipun sama-sama wujud (ada), tapi wujud Allah
berbeda dengan kita, misalnya. Allah wujud tanpa permulaan dan akhir. Sedangkan
kita wujud setelah sebelumnya tidak ada. Kita wujud setelah melalui prosers
panjang dan terus mengalami proses biologis sampai kemudian meninggal dunia.
Sedangkan Allah tidak.
Selain
itu, kita tidak akan memahami hakikat ketuhanan-Nya kecuali mengimani asma-u-ul
husna. Sebab, dalam sembilan puluh sembilan nama-Nya yang indah itu terdapat
tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah SWT. Dengan menghayati sifat-sifat dan
nama-nama-Nya yang indah, keimanan pada Allah akan semakin kokoh. Wallahu a’lam.[]
A. Muntaha Afandie, M.L.L.C.A. – Direktur Al-Lisaniyat
Institute
Disarikan dari pengajian rutinan kitab al-Futuhat
al-Madaniyyah Syarh al-Syu’ab al-Imaniyyah, setiap Jumat ba’da Magrib di
Musola Nurul Ihsan.

EmoticonEmoticon