Minggu, 11 September 2022

Pengertian Beriman Kepada Allah dan Cara Meningkatkannya


Selain itu, kita tidak akan memahami hakikat ketuhanan-Nya kecuali mengimani asma-u-ul husna. Sebab, dalam sembilan puluh sembilan nama-Nya yang indah itu terdapat tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah SWT. Dengan menghayati sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang indah, keimanan pada Allah akan semakin kokoh.

الأول الإيمان بالله وصفاته وحدوث ما دونه

Pertama, iman kepada Allah, sifat-sifat-Nya, dan kebaruan makhluk-Nya.

Langkah pertama untuk menyempurnakan iman adalah dengan mengimani Allah dan sifat-sifat-Nya, selain itu, meyakini kebaruan selain Allah. Artinya, tidak ada yang menyekutui Allah dalam ke-qadim-an-Nya. Sebab, Allah dahulu (qadim) tanpa permulaan dan kekal tanpa akhir (al-baqa). Sehingga, jelas Allah tidak sama dengan makhluk-nya yang hadis (baru), sederhananya: mukhalafatu lil hawaditsi (Allah tidak sama dengan makhluk-makhluk-Nya yang tercipta belakangan).

Iman terhadap Allah dan sifat-sifat-Nya merupakan jenjang keimanan pertama bagi setiap mukmin. Sebagaimana ditegaskan oleh nabi dalam H.R. Abi Hurairah r.a. berikut ini:

الإيمانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعْبَةً: فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لا إله إلا الله، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ.

”Iman itu memiliki tujuh puluhan lebih atau enam puluhan lebih cabang; cabang yang paling utama ialah ucapan Lā ilāha illallāh (tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah). Sedangkan cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari jalan. Bahkan memiliki rasa malu juga termasuk salah satu cabang dari iman.”

Dari hadis tersebut, jelas iman tidak hanya satu sifat atau satu cabang. Sebaliknya, ia memiliki lebih banyak cabang, Sekitar tujuh puluh lebih, atau enam puluh dua, tetapi iman tertinggi adalah satu kata: Lā ilāha illallāh (Tidak ada Tuhan selain Tuhan). Adapun yang paling rendah di antaranya semua cabang keimanan adalah menghilangkan setiap hal yang mengganggu orang berjalan di jalan umum, baik itu batu, duri, atau hal-hal lain dari jalan. Bahkan bersikap rendah hati juga termasuk salah satu cabang iman.

Dalam pada itu, beriman pada Allah tidak sebatas meyakini keberadaan-Nya. Lebih dari itu, beriman pada Allah juga berarti meyakini sifat-sifat wajib bagi-Nya, selain itu juga sifat-sifat yang muhal (tidak mungkin melekap pada Allah) dan sifat jaiz (sifat yang boleh ada, boleh tidak ada pada dzat Allah). Seperti hadirnya virus Covid-19 yang menjadi pandemi di seluruh bumi selama dua tahunan terakhir ini.

Allah bisa saja tidak menguji kita dengan virus ini, tapi ternyata Allah menguji kesabaran kita dengan datangnya virus yang memaksa kita untuk menjaga jarak, jauh dari teman dekat, bahkan kehilangan kerabat yang terkasih. Karena menciptakan dan / atau tidak menciptakan sesuatu itu hak prerogatif Allah (fi’lu kulli mumkinin aw tarkuhu).

Pertanyaan sederhananya, mengapa harus mengimani juga sifat-sifat-Nya?

Bila iman dikonseptualisasikan sebagai bangunan, maka sifat-sifatnya adalah sejumlah pintu yang menjadi jalan bagi kita untuk masuk kedalam bangunan iman pada Allah. Misalnya, sifat Mukholafatu Lil Hawaditsi (Allah tidak sesuai dengan setiap makhluk-Nya). Ini menguatkan keimanan kita pada-Nya bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Meskipun sama-sama wujud (ada), tapi wujud Allah berbeda dengan kita, misalnya. Allah wujud tanpa permulaan dan akhir. Sedangkan kita wujud setelah sebelumnya tidak ada. Kita wujud setelah melalui prosers panjang dan terus mengalami proses biologis sampai kemudian meninggal dunia. Sedangkan Allah tidak.

Selain itu, kita tidak akan memahami hakikat ketuhanan-Nya kecuali mengimani asma-u-ul husna. Sebab, dalam sembilan puluh sembilan nama-Nya yang indah itu terdapat tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah SWT. Dengan menghayati sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang indah, keimanan pada Allah akan semakin kokoh. Wallahu a’lam.[]

  

A. Muntaha Afandie, M.L.L.C.A. – Direktur Al-Lisaniyat Institute

Disarikan dari pengajian rutinan kitab al-Futuhat al-Madaniyyah Syarh al-Syu’ab al-Imaniyyah, setiap Jumat ba’da Magrib di Musola Nurul Ihsan.


EmoticonEmoticon