Minggu, 21 Agustus 2022

Barometer Kesempurnaan Iman

Meningkatkan Kualitas Iman dan Takwa
Bertakwa pada Allah bukan dengan puasa di siang hari, tidak pula dengan qiyamul lail. Bahkan takwa tidak bisa diraih dengan melakukan keduanya—siang berpuasa dan malam qiyamul lail—sekaligus. Tetapi, hakikat dari takwa adalah (bila kita sudah mampu untuk) meninggalkan hal-hal yang Dia haramkan dan (pada saat yang sama) menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap kita.


(فإن المؤمن الكامل في إيمانه وهو المؤمن حقا من كملت فيه شعب الإيمان) 

ومن نقصت منه واحدة من منها نقص من إيمانه بحسبها.

Artinya:

Maka, sesungguhnya seorang mukmin yang imannya sempurna adalah orang yang benar-benar beriman, yaitu orang yang dari keimannya tumbuh semua jenis dahan keimanan. Oleh karena itu, bila salah satu dahan itu tidak ada, maka konsekwensinya kualitas imannya pun menurun.  

Penjelasan:

Iman seperti pohon. Semakin baik pertumbuhannya, ia semakin hijau dan rindang. Begitu juga dengan iman. Ia memiliki tujuh puluh delapan dahan. Kesempurnaan iman seseorang terlihat dari ranting-ranting keimanan (shu'ab al-iman) itu. Apakah cabang-cabang tersebut utuh dan tumbuh subur atau tidak.

Kalau ketujuh puluh delapan dahan tersebut utuh, tandanya iman seseorang sempurna. Sebalikya bila salah satunya tidak ada, berarti kualitas imannya sedang berkurang. Hal ini merupakan kodrat setiap mukmin, sebagaimana ditegaskan oleh nabi sendiri

الإيمان يزيد وينقص

Kualitas iman bisa bertambah baik, bisa juga berkurang.

Ia membaik bila orang yang beriman berbuat kesalehan-kesalehan dan mengerjakan perintah-perintah-Nya sekaligus menjauhi semua larangan-Nya (al-imanu yazidu di al-tho'ah).

Dalam pada itu, kualitasnya bisa menurun bila masih mengerjakan maksiat. Semakin banyak dan besar kemaksiatan itu, maka semakin drastis penurunan kualitasnya (wa yanqushu bil ma'shiat).

Oleh karena itu, iman dan takwa bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semakin baik takwa secara otomatis, menaikkan kualitas iman. Ini sudah satu paket.

Untuk meraih ketakwaan tidak bisa hanya menjalankan perintah-perintah-Nya tapi pada saat yang sama masih belum bisa meninggalkan larangan Yang Maha Kuasa. Hal ini, sesuai dengan definisi takwa itu sendiri

التقوى هو امتثال أوامر الله واجتناب النواهي

Bertakwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Definisi tersebut terdiri dari dua fariabel: Pertama, menjalankan perintah-perintah Allah (imtitsalu awamiriLlah). Kedua, menjauhi larangan-larangan-Nya (ijtinabu nawahihi). Dan diantara keduanya dihubungkan oleh huruf sambung (harful athfi) wawu (و) yang fungsinya untuk menyatakan bahwa ma’thul dan ma’thuf alaih (kalimat sesudah dan sebelum wawu tersebut) memiliki status yang sama secara mutlak (muthlaq al-jam’).

Dengan kata lain, wawu athaf tidak memiliki fungsi untuk menunjukan makna berurutan sebagaimana fa (ف) dan tsumma (ثم). Oleh karena itu, dalam proses (melatih diri) bertakwa bisa kita mulai dengan meninggalkan larangan-larangan Allah baru mulai mengerjakan perintah-perintah-Nya, atau sebaliknya. Yang jelas, kita tidak bisa meraih predikat takwa bila hanya memenuhi salah satunya saja: mengerjakan peringtah Allah, tapi tidak memperdulikan larangan-Nya. Begitu juga sebaliknya, ketat dalam meninggalkan larangan Allah tapi masih ”semaunya” dalam menunaikan perintah-Nya.

Keduanya harus ada dan sejalan. Meskipun-- sekali lagi-- dalam proses melatih kita belum bisa melakukan sekaligus. Sehingga baru bisa melakukan salah satunya, tapi seiring berjalan waktu harus terus ditingkatkan dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Sebab, bila hal ini tidak terpenuhi maka, predikat takwa belum bida diraih. Sebagaimana dikatakan oleh Umar Ibn Abdul Aziz berikut ini,

ليس تقوى الله بصيام النهار ولا بقيام الليل والتخليط فيما بين ذلك ولكن تقوى الله ترك ما حرم الله وأداء ما افترض الله 

Bertakwa pada Allah bukan dengan puasa di siang hari, tidak pula dengan qiyamul lail. Bahkan takwa tidak bisa diraih dengan melakukan keduanya—siang berpuasa dan malam qiyamul lail—sekaligus. Tetapi, hakikat dari takwa adalah (bila kita sudah mampu untuk) meninggalkan hal-hal yang Dia haramkan dan (pada saat yang sama) menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap kita.

Berdasarkan fakta ini, maka kualitas keimanan terbagi menjadi tiga level, yaitu:

Pertama, hakekat iman (al-iman al-tahqiqi). Orang yang meraih level ini adalah bila sudah mampu mempercayai keenam rukun imam secara totalitas. Sehingga meskipun – misalnya ia hidup sebagai minoritas—seluruh lingkungan menentangnya, ia tetap teguh dengan keyakinan. Meskipun nyawa taruhannya.

Kedua, beriman berdasarkan bukti-bukti logis / ilmiah (al-iman al-istidlali). Misalnya, seseorang mempercayai keberadaan Allah setelah ia membuktikan secara logis dan/ atau ilmia, seperti ia mempercayai mobil ada karena tidak mungkin tercipta sendiri tapi ada pabrik dan para pekerja yang membuatnya.

Ketiga, beriman karena sebatas bertaklid (al-iman al-taqlidi) yaitu keimanan seorang anak yang mengikuti keyakinan orang tuanya dan / atau guru-gurunya.

Ia akan naik ke level kedua ketika sudah menemukan argumentasi dari keyakinannya tersebut. Dan bisa naik ke level pertama ketika keyakinannya sudah benar-benar kokoh dan tidak tergoyahkan oleh iming-iming dan / atau ancaman. Dari sinilah kemudian akan keluar ketujuh puluh delapan dahan yang menjadi barometer kesempurnaan keimanan.[]


* Disarikan dari pengajian kitab al-Futuhat al-Madaniyyah setiap Jumat Malam, pukul 19.15 (ba'da Isya) di Musola Nurul Ihsan (Sidoarjo)


EmoticonEmoticon