ومن نقصت منه واحدة من منها نقص من
إيمانه بحسبها.
Artinya:
Maka, sesungguhnya seorang mukmin yang
imannya sempurna adalah orang yang benar-benar beriman, yaitu orang yang dari
keimannya tumbuh semua jenis dahan keimanan. Oleh karena itu, bila salah satu
dahan itu tidak ada, maka konsekwensinya kualitas imannya pun menurun.
Penjelasan:
Iman
seperti pohon. Semakin baik pertumbuhannya, ia semakin hijau dan rindang.
Begitu juga dengan iman. Ia memiliki tujuh puluh delapan dahan. Kesempurnaan
iman seseorang terlihat dari ranting-ranting keimanan (shu'ab al-iman)
itu. Apakah cabang-cabang tersebut utuh dan tumbuh subur atau tidak.
Kalau
ketujuh puluh delapan dahan tersebut utuh, tandanya iman seseorang sempurna.
Sebalikya bila salah satunya tidak ada, berarti kualitas imannya sedang
berkurang. Hal ini merupakan kodrat setiap mukmin, sebagaimana ditegaskan oleh
nabi sendiri
الإيمان يزيد وينقص
Kualitas
iman bisa bertambah baik, bisa juga berkurang.
Ia
membaik bila orang yang beriman berbuat kesalehan-kesalehan dan mengerjakan
perintah-perintah-Nya sekaligus menjauhi semua larangan-Nya (al-imanu yazidu
di al-tho'ah).
Dalam
pada itu, kualitasnya bisa menurun bila masih mengerjakan maksiat. Semakin
banyak dan besar kemaksiatan itu, maka semakin drastis penurunan kualitasnya
(wa yanqushu bil ma'shiat).
Oleh
karena itu, iman dan takwa bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Semakin baik takwa secara otomatis, menaikkan kualitas iman. Ini sudah satu
paket.
Untuk
meraih ketakwaan tidak bisa hanya menjalankan perintah-perintah-Nya tapi pada
saat yang sama masih belum bisa meninggalkan larangan Yang Maha Kuasa. Hal ini,
sesuai dengan definisi takwa itu sendiri
التقوى هو امتثال أوامر الله واجتناب
النواهي
Bertakwa adalah
menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Definisi
tersebut terdiri dari dua fariabel: Pertama, menjalankan
perintah-perintah Allah (imtitsalu awamiriLlah). Kedua, menjauhi
larangan-larangan-Nya (ijtinabu nawahihi). Dan diantara keduanya
dihubungkan oleh huruf sambung (harful athfi) wawu (و) yang fungsinya untuk menyatakan bahwa ma’thul
dan ma’thuf alaih (kalimat sesudah dan sebelum wawu tersebut) memiliki
status yang sama secara mutlak (muthlaq al-jam’).
Dengan
kata lain, wawu athaf tidak memiliki fungsi untuk menunjukan makna berurutan
sebagaimana fa (ف) dan tsumma (ثم). Oleh karena itu, dalam proses (melatih
diri) bertakwa bisa kita mulai dengan meninggalkan larangan-larangan Allah baru
mulai mengerjakan perintah-perintah-Nya, atau sebaliknya. Yang jelas, kita
tidak bisa meraih predikat takwa bila hanya memenuhi salah satunya saja:
mengerjakan peringtah Allah, tapi tidak memperdulikan larangan-Nya. Begitu juga
sebaliknya, ketat dalam meninggalkan larangan Allah tapi masih ”semaunya” dalam
menunaikan perintah-Nya.
Keduanya
harus ada dan sejalan. Meskipun-- sekali lagi-- dalam proses melatih kita belum
bisa melakukan sekaligus. Sehingga baru bisa melakukan salah satunya, tapi
seiring berjalan waktu harus terus ditingkatkan dalam menjalankan perintah dan
meninggalkan larangan. Sebab, bila hal ini tidak terpenuhi maka, predikat takwa
belum bida diraih. Sebagaimana dikatakan oleh Umar Ibn Abdul Aziz berikut ini,
ليس
تقوى الله بصيام النهار ولا بقيام الليل والتخليط فيما بين ذلك ولكن تقوى الله ترك
ما حرم الله وأداء ما افترض الله
Bertakwa
pada Allah bukan dengan puasa di siang hari, tidak pula dengan qiyamul lail. Bahkan
takwa tidak bisa diraih dengan melakukan keduanya—siang berpuasa dan malam
qiyamul lail—sekaligus. Tetapi, hakikat dari takwa adalah (bila kita sudah
mampu untuk) meninggalkan hal-hal yang Dia haramkan dan (pada saat yang sama)
menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap kita.
Berdasarkan
fakta ini, maka kualitas keimanan terbagi menjadi tiga level, yaitu:
Pertama, hakekat iman (al-iman al-tahqiqi). Orang yang meraih level
ini adalah bila sudah mampu mempercayai keenam rukun imam secara totalitas. Sehingga
meskipun – misalnya ia hidup sebagai minoritas—seluruh lingkungan menentangnya,
ia tetap teguh dengan keyakinan. Meskipun nyawa taruhannya.
Kedua, beriman berdasarkan bukti-bukti logis / ilmiah (al-iman
al-istidlali). Misalnya, seseorang mempercayai keberadaan Allah setelah ia
membuktikan secara logis dan/ atau ilmia, seperti ia mempercayai mobil ada
karena tidak mungkin tercipta sendiri tapi ada pabrik dan para pekerja yang
membuatnya.
Ketiga, beriman karena sebatas bertaklid (al-iman al-taqlidi)
yaitu keimanan seorang anak yang mengikuti keyakinan orang tuanya dan / atau
guru-gurunya.
Ia akan naik ke level kedua ketika sudah menemukan argumentasi dari keyakinannya tersebut. Dan bisa naik ke level pertama ketika keyakinannya sudah benar-benar kokoh dan tidak tergoyahkan oleh iming-iming dan / atau ancaman. Dari sinilah kemudian akan keluar ketujuh puluh delapan dahan yang menjadi barometer kesempurnaan keimanan.[]
* Disarikan dari pengajian kitab al-Futuhat al-Madaniyyah setiap Jumat Malam, pukul 19.15 (ba'da Isya) di Musola Nurul Ihsan (Sidoarjo)

EmoticonEmoticon