Sabtu, 13 Juni 2026

Di Atas Arasy

Tuhan di atas Arasy

Di dalam al-Qur’an, ada kalimat-kalimat yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan berabad-abad. Salah satunya tsumma istaw ’ala al-’arsy (‘al-‘A’raf: 54).

Ayat itu, pada telinga yang tergesa, bisa terdengar seperti sebuah gambar: Tuhan bersemayam di atas singgasana. Tetapi bahasa, seperti sejarah, kerap menipu orang yang terlalu cepat merasa paham. Kalimat itu datang bukan untuk memuaskan imajinasi, melainkan untuk menguji ketahanan nalar. Ia bukan undangan untuk membayangkan Tuhan seperti raja-raja bumi yang duduk di balairung, menanti hormat para penjaga pintu. Bukan. Itu terlalu miskin. Terlalu manusiawi. Terlalu kecil. Tuhan Maha Agung yang tidak butuh diagungkan.

Para mufassir mainstream menegaskan: maksudnya bukan Tuhan duduk di atas Arasy seperti makhluk duduk di atas kursi. Sebab Tuhan tidak serupa dengan yang baru, tidak tunduk pada bentuk, ukuran, tempat, arah, dan batas. Mukhalafatu lil hawaditsi—Dia berbeda dari segala yang datang kemudian (baca: makhluk), dari segala yang lahir dalam ruang dan waktu. Maka, ketika ayat menyebut Arasy, yang dibuka bukan pintu antropomorfisme, melainkan pintu tanzih: penyucian makna dari jebakan rupa.

Di sini bahasa Arab menjadi tajam sekaligus lembut. Kata istawa tidak dibiarkan berdiri sendirian seperti patung yang minta dipuja. Ia dibaca bersama keseluruhan iman. Maka lahirlah kesadaran yang tua dan tetap segar: Allah di atas Arasy, bila kaif—tanpa menanyakan bagaimana Ia disana. Sebab “bagaimana” adalah pertanyaan yang lahir dari dunia yang terbatas. Ia berguna untuk meja, jendela, atau tubuh manusia. Tapi untuk Tuhan, ia patah di ambang pintu.

Kita sering ingin menjinakkan yang gaib dengan tata bahasa dunia. Kita ingin memegang yang tak terpegang, memberi ukuran pada yang tak terukur. Padahal iman justru sering dimulai saat kita menahan tangan sendiri. Saat kita mengerti: tidak semua yang benar harus dibayangkan, dan tidak semua yang disebut harus diseret ke ranah benda.

Arasy disebut. Maka kita tunduk. Bukan karena kita sudah mengerti seluruhnya, melainkan karena ada wilayah yang memang diletakkan di atas akal, bukan untuk menghina akal, melainkan untuk menempatkannya pada proporsi yang benar. Akal mulia. Tetapi ia bukan Tuhan. Ia terbatas.

Maka kesimpulannya tidaklah liar, tidak pula kosong. Ia justru tegas: Allah Mahatinggi, dan ketinggian-Nya bukan ketinggian ruang. Ia bukan bertambah tinggi setelah menciptakan Arasy, sebab ketinggian-Nya tidak pernah berubah. Sebelum Arasy ada, Dia tetap tinggi. Setelah Arasy ada, Dia tetap tinggi. Tidak ada “sebelum” dan “sesudah” yang mengubah-Nya. Waktu yang bergerak. Dia tidak. Karena, dalam bahasa akidah, Allah Qadiim (Ia ada tanpa awal dan akhir).

Dan barangkali, di titik ini, bahasa harus berhenti sedikit lebih awal daripada rasa ingin tahu kita. Karena yang paling jujur dalam teologi kadang justru bukan penjelasan yang panjang, melainkan pengakuan yang singkat: kita beriman tanpa menyerupakan, kita menetapkan tanpa membayangkan, kita menyebut tanpa mengurung.

Dia di atas Arasy bila kaif. Kalimat ini bukan pengakuan ketidaktahuan, melainkan pengakuan akan batas. Sebab ketika manusia bertanya “bagaimana?”, sejatinya dia sedang membawa kategori makhluk— misal: ruang, arah, jarak, dan bentuk—untuk memahami Tuhan. Padahal semua itu adalah sifat yang diciptakan, sedangkan Allah tidak tunduk kepada ciptaan-Nya sendiri.

Karena itu, para ulama menetapkan apa yang ditetapkan Al-Qur'an dan menafikan apa yang mustahil bagi Allah. Dia beristiwa di atas Arasy sebagaimana yang Dia kabarkan tentang diri-Nya. Berkali-kali. Namun istiwa itu bukan duduk, bukan menempati ruang, bukan pula bersentuhan dengan Arasy. Sebab yang demikian hanya layak bagi makhluk. Di sinilah makna mukhalafatu lil hawaditsi: Allah ada tanpa menyerupai apa pun yang ada.

Maka bila kaif bukan jalan keluar saat akal buntu, melainkan disiplin akal itu sendiri. Kita mengetahui bahwa Allah beristiwa, tetapi tidak mengetahui hakikat caranya. Dan justru di situlah letak adab teologi: menetapkan tanpa menyerupakan, menyucikan tanpa meniadakan. Sebab kesalahan terbesar bukanlah tidak mengetahui hakikat Tuhan, melainkan membayangkan bahwa Tuhan dapat sepenuhnya dimuat di dalam imajinasi manusia.


EmoticonEmoticon