Sebagian orang mengejarnya melalui harta. Sebagian yang lain mencarinya dalam jabatan, popularitas, atau berbagai pencapaian duniawi. Anehnya, tidak sedikit orang yang sudah memiliki semuanya justru tetap merasa gelisah. Hatinya tidak pernah benar-benar tenang.
Islam memandang kebahagiaan dari sudut yang berbeda. Kebahagiaan bukan sekadar tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana hubungan kita dengan Allah Swt. Ketika hubungan itu baik, hati akan lebih mudah menemukan ketenangan, bahkan di tengah berbagai kesulitan hidup.
Dalam kitab Nashaihul 'Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengutip sebuah nasihat berharga dari Abdullah bin Umar bin Ash. Beliau menyebutkan lima amalan yang apabila dijaga dengan baik akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

1. Membiasakan Kalimat Tahlil: Laa Ilaaha Illallah
Kunci pertama adalah memperbanyak membaca kalimat tauhid: "Laa ilaaha illallah"
Kalimat ini mungkin sederhana di lisan, tetapi sangat besar nilainya di sisi Allah. Ia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa zikir termasuk amalan yang paling dicintai Allah. Di antara berbagai bentuk zikir, kalimat tahlil memiliki kedudukan yang istimewa karena menjadi inti dari seluruh ajaran Islam.
Orang yang membiasakan diri membaca Laa ilaaha illallah akan selalu mengingat bahwa hidupnya berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran ini membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih sabar saat menghadapi masalah, dan lebih tenang ketika harapan-harapan dunia tidak berjalan sesuai rencana.
Ketika hati dipenuhi tauhid, kegelisahan perlahan berkurang. Sebab ia sadar bahwa ada Allah yang mengatur segala sesuatu dengan penuh hikmah.
2. Menghadapi Musibah dengan Istirja'
Tidak ada manusia yang terbebas dari ujian. Kehilangan, kegagalan, sakit, dan berbagai kesulitan adalah bagian dari perjalanan hidup.
Ketika musibah datang, Islam mengajarkan sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Kita milik Allah, dan kepada-Nya pula kita akan kembali.
Kalimat ini mengajarkan sikap pasrah yang aktif. Pasrah bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan menerima takdir sambil terus berikhtiar mencari jalan keluar.
Dalam kajian ini juga ditekankan pentingnya menjaga lisan ketika sedang diuji. Banyak orang yang justru menambah beban hidupnya dengan terlalu banyak mengeluh, menyalahkan keadaan, atau melampiaskan kekecewaan kepada orang lain.
Rasulullah saw. mengingatkan agar tidak memperbanyak pembicaraan yang jauh dari zikir kepada Allah. Sebab hati yang terlalu sibuk dengan keluhan lambat laun akan menjadi keras. Dan hati yang keras adalah hati yang jauh dari Allah.
Karena itu, salah satu rahasia hidup tenang adalah berbicara seperlunya dan memperbanyak mengingat Allah.
3. Bersyukur atas Setiap Nikmat
Kunci berikutnya adalah syukur.
Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang. Padahal setiap hari kita menikmati begitu banyak karunia: kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan belajar, makanan yang tersedia di meja, bahkan udara yang kita hirup tanpa harus membayarnya.
Semua itu layak disyukuri. Bentuk syukur yang paling sederhana adalah mengucapkan: Alhamdulillah.
Namun syukur tidak berhenti pada ucapan. Syukur adalah kesadaran bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan karena itu harus digunakan untuk hal-hal yang diridhai-Nya.
Orang yang pandai bersyukur biasanya lebih bahagia. Ia tidak terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia menikmati apa yang dimiliki sambil tetap berusaha memperbaiki masa depan.
Allah bahkan menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur: "Wa idz ta'adzdzana rabbukum la'in syakartum la'azîdannakum wa la'ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd. (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7).
Karena itu, syukur bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga kunci keberkahan hidup.
4. Membiasakan Empat Kalimat yang Dicintai Allah
Rasulullah saw. mengajarkan empat kalimat yang sangat dicintai Allah: "Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah Allahu Akbar."
Empat kalimat ini sering kita dengar sejak kecil sehingga terkadang kehilangan daya pukau di mata kita. Padahal, masing-masing mengandung makna yang luar biasa.
Subhanallah adalah pengakuan atas kesucian Allah. Alhamdulillah adalah ungkapan syukur kepada-Nya. Laa ilaaha illallah adalah inti tauhid. Sedangkan Allahu Akbar adalah pengakuan bahwa Allah lebih besar daripada segala persoalan yang kita hadapi.
Ketika kalimat-kalimat ini dibiasakan setiap hari, hati akan lebih mudah menemukan ketenangan. Pikiran menjadi lebih jernih dan jiwa lebih dekat kepada Allah. Amalan yang tampak ringan ini justru memiliki timbangan yang sangat berat di sisi-Nya.
5. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Kunci terakhir adalah memperbanyak istighfar. Setiap manusia pernah berbuat salah. Tidak ada yang sempurna. Karena itu, Allah membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya.
Salah satu bacaan istighfar yang dianjurkan adalah: "Astaghfirullaahal 'Azhiim wa atuubu ilaih."
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang membiasakan istighfar akan memperoleh berbagai keutamaan. Pertama, Allah memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Kedua, Allah memberikan kelapangan dari setiap kesempitan. Ketiga, Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Karena itu, istighfar bukan hanya sarana menghapus dosa, tetapi juga jalan untuk memperbaiki kualitas hidup.
Ketika masalah terasa menumpuk, ketika jalan keluar belum terlihat, atau ketika rezeki terasa sempit, jangan hanya sibuk mencari solusi di luar diri. Cobalah memperbanyak istighfar.
Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan keadaan di sekitar kita, melainkan hubungan kita dengan Allah.
Penutup
Lima kunci hidup bahagia di dunia dan akhirat yang diajarkan para ulama sebenarnya sangat sederhana: memperbanyak tahlil, bersabar ketika mendapat musibah, bersyukur atas nikmat, membiasakan zikir, dan memperbanyak istighfar.
Amalan-amalan ini tidak membutuhkan biaya. Tidak memerlukan jabatan. Tidak mensyaratkan kekayaan. Yang dibutuhkan hanyalah istiqamah.
Ketika hubungan seorang hamba dengan Allah terjaga, hatinya menjadi lebih tenang. Dan ketika hati telah menemukan ketenangan, kebahagiaan dunia menjadi lebih mudah dirasakan, sementara kebahagiaan akhirat telah mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Disarikan dari pengajian, Lima Kunci Hidup Bahagia di Dunia dan Akherat.
EmoticonEmoticon