Bagi Annisa, agama dan Tuhan adalah belenggu. Ia merasa makin terbelenggu setelah menjadi "tumbal" keluarga. Annisa dipaksa menikah dengan Syamsuddin; pria haus syahwat yang selalu mengobral nama Tuhan dan mengintimidasinya dengan siksa neraka demi kepuasan libido.
Gus disesif!
Annisa semakin yakin bahwa Tuhan adalah "sosok" yang tebang pilih dalam kasih-Nya: hanya membela jenis kelamin Adam, sama sekali tidak berpihak kepada Hawa. Tuhan tidak adil!
Namun, belenggu itu rapuh; tidak mampu menahan gempuran "iman" baru. Setelah merasa yakin dan nyaman dengan keyakinan barunya, ia pun melempar dogma warisan leluhurnya—yang dimetaforakan dengan selembar sorban. Demikian yang ditontonkan menjelang akhir film Perempuan Berkalung Sorban.
Metafora yang hampir sempurna untuk menjewer kekakuan beragama. Sindiran yang baik, pada saat yang tepat, bagi mereka yang tidak memahami agama dengan baik. Kenyataannya, memang tidak ada yang benar-benar memahami agama dengan sempurna. Hanya satu orang yang paling memahami Islam: Muhammad saw., pembawa risalah langit.
Film yang diangkat dari novel karya Abidah El Khalieqy ini mengisahkan kehidupan komunitas bersarung di sebuah pesantren tradisional di Jawa Timur—lengkap dengan segala aksesorinya. Dari awal hingga akhir, film ini menyajikan perempuan yang dibelenggu agama. Annisa menjadi representasi perempuan teraniaya. Adapun belenggu agama diwujudkan dalam sosok ayah yang "taat" kepada Tuhan dan suami yang "alim" terhadap agama.
Ayahnya adalah pengasuh pondok pesantren yang patuh pada isi kitab suci. Suaminya seorang gus—putra sahabat sang ayah sekaligus donatur utama Pesantren Al Huda milik ayah Annisa. Sampai di sini, kekritisan Annisa bagaikan sepotong kayu kering yang terhempas gelombang. Harapannya menjadi muslimah yang "utuh" seketika runtuh, terlebih setelah Syamsuddin berselingkuh.
Perempuan Berkalung Sorban adalah kisah seorang gadis kecil yang kritis, ingin tahu hal-hal baru, dan memiliki "kelainan": berani menentang "kodrat" yang ditanamkan orang tuanya. Kekritisannya membuat ia menjadi bahan tertawaan di kelas sekaligus sasaran kekerasan sang ayah.
Lalu, setelah menjanda dan mengembara ke Yogyakarta, ia menemukan realitas baru: kebebasan. Perempuan tidak seharusnya berada di bawah ketiak suami hanya karena surga disebut berada di bawah telapak kaki ibu—perempuan, bukan laki-laki.
Mungkin itu pula yang membuat Pramoedya Ananta Toer meninggalkan "Islam Kejawen" warisan leluhurnya, sebagaimana terekam dalam Bumi Manusia. Mungkin sebab yang sama pula ketika Gus Muh menulis Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur dan menyimpulkan bahwa Islam yang dipahami secara "letterlek" justru mengebiri ruh agama itu sendiri dan berujung pada kekecewaan.
Dalam bukunya itu, Gus Muh mengisahkan perjalanan Nida Kirani, seorang mahasiswi yang meninggalkan dunia esoteris yang semula memberinya ketenteraman batin. Nida keluar dari harakah Islam yang menyulut idealismenya untuk mendirikan Daulah Islamiyah. Ia lari karena merasa hidup di tengah "serigala" berbaju agama dan dijadikan sapi perah atas nama perjuangan suci.
Apabila Perempuan Berkalung Sorban dan Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur mengambil latar "Islam santri", Pramoedya menjadikan "Islam Kejawen" sebagai objek kekecewaannya. Intinya sama: ketika agama dipahami secara terlalu dogmatis, alih-alih menghidupkan romantisme beragama, hasilnya justru jauh bara dari api.
Agaknya, cara paling tepat menjalankan ajaran agama adalah dengan "mengawinkannya" dengan budaya lokal; melalui proses akulturasi. Tentu setelah dilakukan "daur ulang" terhadap unsur-unsur yang memang perlu disesuaikan.
Dalam hal ini, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang sejak awal berusaha mengakulturasikan agama dengan budaya, berpegang pada jargon: al-muhafazhatu 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Bila perlu meracik menu baru yang lebih mudah dinikmati, resep lama yang masih layak santap tetap dipertahankan.
Karena itu, agar Islam tidak mati suri, ia harus terus berdialog dengan budaya dan adat lokal. Yang telah usang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman, sementara yang baru dapat dihadirkan selama tidak menghilangkan ruh ajarannya sebagai rahmatan lil 'alamin.
Dengan demikian, Islam tidak akan pernah menjadi belenggu, apalagi ditinggalkan oleh pemeluknya.
Namun, dalam hati saya masih menyimpan sebuah kejanggalan. Mengapa ketika mengambil latar "Islam dogmatis", sang penulis novel memilih Jombang, sementara Yogyakarta dijadikan simbol "Islam progresif"? Jombang adalah simbol Nahdlatul Ulama, sedangkan Yogyakarta kerap diasosiasikan dengan Muhammadiyah.
Sesempit itukah pemahaman kiai-kiai NU terhadap agama?
Sebagai anak yang lahir dari rahim NU—baik keluarga, lingkungan, maupun pendidikan—saya tidak berani menjawab: ya.
A. Muntaha Afandie
Kritikus film dan peminat sastra. Koordinator LTN PCI NU Libya dan Pemimpin Umum Jurnal Pemikiran dan Peradaban MEDIAKA.
Dipresentasikan dalam "Bedah Film Perempuan Berkalung Sorban", 14 Mei 2009, di gedung perkuliahan International Islamic Call College, Libya.

Penulis novel dan pembuat film sama2 tidak fair dalam menilai dunia pesantren :D
BalasHapuskarena mereka gak pernah mondok, makanya gak tahu seluk beluk pesantren. kalaupun penulisnya pernah mondok, mungkin di pondoknya dia mbeling :P
BalasHapus