Semua mafhum, lidah adalah daging tak bertulang. Karenanya ia lentur: bisa berfungsi sebagai (tali) pengikat, tapi --kelenturannya pula-- lidah bisa menjelma bak sebilah samurai. Bahkan, ia bisa berubah jadi api yang membara: membakar!
Karena kelenturannya, terkadang tanpa kita sadari lisan kita melukai. Tanpa maksud menyakiti, bisa saja, ia meninggalkan luka-lara yang tak kasat mata, tapi tak bisa hilang dalam waktu yang lama. Bukan hanya itu, lembaran sejarah mengabadikan kisah yang lebih menyeramkan: hancurnya kekuasaan yang tak tersentuh senjata tajam, bisa rapuh--lalu runtuh--hanya dengan lisan.
Karena itu, Islam mengajarkan untuk menjaga lisan agar tak mudah "berlisan" sembarangan, bukan hanya terhadap orang awam, lebih dari itu, para cendikiawan yang berwawasan agama.
Dalam sebuah pesan nabi, kaum muslimin diingatkan bahwa keselamatan mereka terjamin bila mampu menjaga lidahnya. "SalÄmat al-insÄn bi hifdz al-lisÄn," pesan nabi.
Ya, bisa saja lisan dapat meruntuhkan kekuasaan yang tak tersentuh senjata dan atau kekuatan, tapi tak boleh kita melupakan: lisan sembarangan bisa berbalik pada diri sendiri!
Dalam konteks ini, saya sangat suka dengan gaya Habiburrahman El Shirazy, yang mengingatkan bahaya memfitnah melalui seorang tokoh tak tahu diri yang hidup penuh ambisi dan iri, Haji Samingan. Karena itu, pelbagai upaya Samingan lakukan untuk menyingkirkan saingannya, Ustaz Azzam. Tapi, Tuhan maha adil. Setiap Samingan berulah, Tuhan turun tangan: ia sendiri yang kena getahnya!
Samingan bukan tokoh fiktif, ia representasi dari ratusan, bahkan jutaan, orang-orang yang berjibaku dengan lidahnya sendiri. El Shirazy hanya memfisualisasikan. Mengingatkan.
Itu baru "hukuman" di dunia. Hukuman di akhirat, konon, lidah-lidah tukang fitnah akan ditusuk jarum membara di neraka.
Mengerikan!
Jangankan itu lidah pemfitnah, lidah tukang ceramah atau ahli ceramah pun, akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Maha Bertanggung Jawab. Sudahkah lisan linear dengan tindakan?
Daging berukuran kecil, ringan tanpa tulang, ternyata berat tanggung jawabnya.
Da'i yang piawai menabur nasihat, tanpa ia lakukan kata-katanya hanya menambah timbangan kirinya yang akan diperhitungkan diakhirat kelak.
Berkata memang mudah, tapi harus dibarengi dengan kesungguhan mengerjakannya, bila yang kita katakan adalah anjuran, dan menjauhinya bila itu larangan.
Namun, itu belum cukup. Ada satu lagi yang membawa sampai kesempurnaan: ikhlas.
Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga lidah dan lisan kita sesuai tindakan.
Buku A. Muntaha Afandie
02
Etika dan Masyarakat Modern
Membahas etika dalam kehidupan sosial di era kontemporer.
Selengkapnya →
03
Pendidikan untuk Masa Depan
Gagasan dan strategi pendidikan untuk generasi berkualitas.
Selengkapnya →
04
Sains, Agama dan Kehidupan
Menghubungkan sains dan spiritualitas dalam perspektif modern.
Selengkapnya →Senin, 15 September 2014
Menjaga Lisan dan Tindakan
La Manouba, 13 Sempember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Terpopuler
Cara Simpel Mbah Wahab Memberi Ijazah Sholawat "Syirik" Kepada Karib Gus Dur
Saat Kiai Afandi pamit untuk boyong, ketika sudah berada di luar pintu, beliau dipanggil Mbah Wahab, ” Afandi, jangan pergi dulu, kamu mau b...
EmoticonEmoticon