Tujuan hidup manusia bukan sekedar bekerja dan menumpuk harta benda, tetapi mencari kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adutud-daraini). Dunia hanyalah sebagai tempat menanam (mazra’ah) dengan melakukan amal saleh sebanyak mungkin sebagai bekal untuk kehidupan selajutnya—al-dunia mazra'ah al-akhirah.
Maka dari itu, sepatutnya dunia hanya dijadikan lahan untuk menanam amal shaleh dan harta yang dimanfaatkan di jalan Tuhan, agar di akhirat kita bisa menuai kebaikannya.
Ada asketis, ada ngirit, ada pula pelit. Ketiganya seakan
nampak sinonim, tapi tidak demikian. Asketis bukan ngirit, apalagi pelit. Kita
mulai dari pengertian asketis. Asketis adalah kata ”multitafsir.” Secara
leksikal: tidak memiliki kecenderungan pada sesuatu, kebalikan dari ”menyukai
sesuatu.” Bila menilik derivasinya, terdapat beberapa versi. Pengertian paling
”mengerikan” adalah versi ”ahli hakekat”: membenci dan menjauhi dunia. Bila
asketis harus demikian, bagaimana nasib Islam?
Allah Swt telah menciptakan manusia dengan sempurna (ahsani taqwim) dari
mahkluk-mahkluk-Nya yang lain. Bukan hanya ”kesempurnaan” lahiariah, Ia juga
membekali Adam dan anak turunnya dengan akal. Lengkaplah kesempurnaan yang Ia
berikan pada manusia. Dibalik ”kesempurnaannya, ” manusia mengemban amanat yang
sangat berat; jadi wakil Tuhan di bumi. Tidak ada makhluk lain yang mau dan/
atau mampu menerima amanat ini. ”Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat ini
kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya tak ada yang mau menerimanya
dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh
manusia.” Q.S. Al Ahzab: 72.
Hal lain yang mendukung makhluk-Nya sempurna karena, ”Ia ciptakan segala
sesuatu dengan berpasang-pasangan (al zaujiyyah fi kulli syai), wa minkulli
syai'in kholaknaa zaujain,” kata Thoyyib Al Asyhab, dosen ”Ulumul Qur'an”
International Islamic Call College, Libya, mengutip firman Tuhan Q.S. Al
Dzariyat: 49.
Contohnya, Tuhan memberikan kemampuan berpikir (quwwal nadhariyyah) yang
berpasangan dengan kemampuan fisik (quwwah 'amaliyyah). Kedua kemampuan ini
harus memiliki peran yang imbang. Jangan terlalu menonjolkan peran akal,
mengalahkan kemampuan pikir. Begitu juga sebaliknya.
Dengan pikirannya, manusia bisa membedakan baik dan buruk. Dengan anugerah itu
pula manusia-- dalam kesehariannya-- dapat mengambil yang bermanfaat baik untuk
dirinya maupun orang lain, serta mampu mencegah sesuatu yang bisa berakibat
buruk bagi dirinya, juga orang lain. Sedangkan dengan kemampuan fisiknya,
manusia dapat berusaha dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya— dan keluarganya.
Di atas hanya segelintir dari contoh-contoh ciptaan Tuhan yang
berpasang-pasangan. Masih banyak lagi yang tak mungkin ditulis semuanya.
Diantaranya, untuk menyebutkan contoh lain, eksoteris berpasangan dengan
esoteris. Manusia harus memberikan ruang yang sama antara (kehidupan) eksoteris
dan esoteris: dengan jiwa yang tenang (esoteris), maka beribadah akan khusu
(eksoteris). Tapi bila hanya mengedepankan esoteris, Islam selamanya terkubur
dalam ”kejumudan.” Begitu juga ketika lebih menonjolkan eksoteris, tidak
menjamin kehidupan bisa berjalan ”stabil.” Keduanya harus berjalan
beriringan—wa minkulli syai'in khalaqna zaujain, tentu firman ini tak boleh
dilupakan.”
Hal yang sering dilupakan: syariat tanpa hakekat tak diterima, hakekat tanpa
syariat pun ditolak. Syariat tanpa hakekat tak berguna, hakekat tan syariat
batal (Al Khalidi, 1997). Tapi manusia terkadang tak mau memberikan ”ruang”
untuk esoteris (hanya mengedepankan eksoteris) karena dianggap tak punya
cantolan hukum—dari Alquran, tentu. Padalah keduanya—hakekat (esoteris) dan
syariat (eksoteris)—sama-sama memiliki landasan dalam Alquran, dalam satu ayat
lagi: Iyyaka na'budu wa iyyakanasta'in. ”Iyyaka na'budu,” adalah syariat dan
”Iyyaka nasta'in” adalah hakekat (Al Khalidi, 1997).
Tugas Manusia di Dunia
Tugas manusia sebagai khalifah adalah untuk beribadah, baik ibadah individual
maupun sosial. Semua tindakan yang dilakukan, baik yang berkaitan dengan
dirinya sendiri maupun orang lain, hanya diarahkan untuk beribadah dan mengabdi
kepada Allah. Allah berfirman, ”Aku ciptakan jin dan manusia agar mereka
mengabdi kepada-Ku” (Q.S. Adz Dzariyat: 56).
Manusia juga bertanggung jawab membangun peradaban di bumi manusia
(‘imaratul-ardli). Bukan sebaliknya, merusak bumi hanya untuk
kepentingan-kepentingan duniawi dan menuruti hawa nafsu belaka: Illegal logging
dan mengeruk pasir secara besar-besaran, sekelumit dari contoh eksploitasi alam
yang ujung-ujungnya merugikan manusia itu sendiri; banjir, longsor, dll.
Semuanya bertentangan dengan ”tugas sebagai khalifah fi al ard.”
Agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya-- makan, minum, pakaian, dan tempat
tinggal— manusia dituntut bekerja. Kenyataan seperti itulah yang menyebabkan
manusia untuk bekerja dan berikhtiar dalam rangka menutupi kebutuhan hidup. Dan
manusia bisa mencapai puncak karirnya, bila kemampuan akal dan fisik berjalan
seimbang. Ketika hanya kekuatan fisik yang diandalkan, maka hanya ”berjaya”
sebagai kuli kasar: tukang becak atau kuli bangunan, dll. Ketika akal yang di
dewakan, penulis yakin, kejayaan tak bertahan lama. Akal-fisik punya porsi yang
sama, tidak bisa dikedepankan salah satunya.
Bekerja dan berikhtiar untuk mencari biaya hidup bukan berarti mencerminkan
sikap senang terhadap harta benda, tetapi hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup.
Dengan catatan-- mengutip Al Junaidi, tentu—khuluwwil badani minaddunya wa
khuluwwil qalbi min tholabiha. Harta tidak sampai ”nongkrong” di hati, sekedar
memenuhi kebutuhan hidup—dan lebih luas lagi: harat untuk membantu kebutuhan
”denyut nadi” Islam. Dan, setelah kebutuhan terpenuhi, beribadah pun jadi lebih
tenang.
Dalam pada itu, bekerja dan berikhtiar menjadi sesuatu yang wajib karena
beribadah adalah wajib. Sedangkan beribadah tanpa bekerja pada umumnya manusia
tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu sesuai dengan maksim Islam
klasik, ”Sesuatu yang apabila kewajban tidak bisa sempurna tanpanya, maka
sesuatu tersebut wajib hukumnya (ma la yatimmu al wajibu illa bihi fahuwa
wajib).” Atau dalam bahasa lainnya, ”Memerintahkah suatu urusan, secara tak
langsung perintah mengerjakan medianya (al amru bi alsyai, amrun bi
wasailihi).” Dan bekerja adalah wasilah untuk bisa beribadah— minimal untuk
membeli peralatan shalat.
Bekerja Tapi Jangan Gila Harta
Di atas penulis sebutkan bahwa manusia dituntut agar memenuhi kebutuhan
keseharian dia dan keluarganya. Dilain waktu, seperti tampak dalam beberapa
ayat Alquran, manusia diperintahkan untuk asketis, meniggalkan segala sesuatu
yang berkaitan dengan duniawi; zuhud. Diantara ayat yang mengabadikan perintah
berzuhud, antara lain, ”Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih
kekal” (Q.S. Al A'la 87 : 17). Ayat lain bisa: Q.S. An Nisa 4 : 77, Q.S.
Al-Anaam 6: 32, dan Q.S. At Taubah 9 : 38.
Apakah ini suatu absurditas? Apakah ini suata kontradiksi? Dimana pada satu
sisi manusia harus bekerja mencari harta benda untuk menutupi kebutuhan
sehari-harinya, di sisi lain dia diprintah askketis—meninggalkan harta. Inilah
yang menjadi perenungan kaum esoteris--terutama ulama-ulama kuno/ salaf—agar
dapat memberikan solusi tepat dan akurat.
Secara leksikal: asketis tidak memiliki kecenderungan pada sesuatu, kebalikan
dari ”menyukai sesuatu” (Al Khalidi, 1997). Bila dtilik dari derivasinya, zuhud
berasal zahada-yazhadu-zuhdan-zahadatan dan artinya tidak suka atau benci (Al
Zawi, 1981). Pengertian paling ”mengerikan” adalah versi ”ahli hakekat”:
membenci dan menjauhi dunia.
Nampanya, yang relevan dalam konteks kekinian dan kedisian, Indonesia
khususnya, ialah zuhud tidak harus jadi petapa, makan ala kadarnya, dan
berpakaian yang di beli dipasar loak (baca: compang-camping). ”Zuhud ialah
tidak memikirkan dunia, bukan mengkonsumsi gandum dan berpakaian mantel,” kata
Sofyan Al Tsauri dan Ahmad Ibnu Hambal. Dengan diplomatis, Sayid Abu Bakar
memberikan pengertian asketis dalam bukunya, Kifayah Al Atqiya’, dengan:
”Menghilangkan ketergantungan hati terhadap harta benda (dunia), bukan berarti
tidak punya harta—faqdu 'alaqotil qobli bil mal, wa laisa huwa faqdu al mal.”
Pendapat lain mengatakan, zuhud adalah meninggalkan dunia sepenuhnya—mungkin
ini bertendensi pada zuhud secara leksikal. Ada juga yang mengatakan, zahid
adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan segala sesuatu yang diperintakan
Allah serta meninggalkan segala kesibukan terhadap selain-Nya. Bahkan ada yang
mengatakan, zuhud adalah meninggalkan dunia seakan-akan dunia ini tidak ada.
Dari beberapa pengeritan asketis dia atas bukan berarti hanya sebagian yang
benar, dan lain salah. Timbulnya berbagai interpretasi terhadap asketis
berangkat dari perbedaan maqam atau tingkatan masing-masing zahid. Ada yang
ketika mencapai maqam tertentu, seseorang hanya tsiqah billah (percaya
sepenuhnya kepada Allah) dan berserah diri secara total (tanpa ikhtiar dan
tidak mengharap pada selain Allah). Ada zuhud 'awwam, khowwash, dan akhos al
khowwsh.
Tapi, dari pengertian zuhud sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa zuhud
bukan berarti benci kepada dunia atau tidak punya harta benda. Tapi zuhud
adalah menghilangkan ketergantungan hati pada selain Allah Swt (harta benda dan
lainnya). Kesimpulan ini selaras dengan apa yang telah dipaparkan Al Ghazali.
Pertama, tidak ada bedanya antara memiliki harta dan tidak. Yakni, tidak merasa
senang dengan adanya harta, juga tidak susah dengan tiadanya harta. Kedua,
dipuji atau dicelah orang lain, tidak ada pengaruh bagi dirinya. Ketiga,
ketenteraman hatinya hanya bersandar kepada Allah semata, serta hatinya
dipenuhi perasaan ”nikmatnya berbakti” (ta’at) kepada Sang Khaliq.
Bila kita menengok ke belakang, maka akan menemukan sederetan nama para asketis
yang sukses dalam dunia bisnis, politik dan pertanian. Umar ibnu Abdul Aziz si
raja asketis, Jabir ibn Hayyan sang fisikiawan, ada pengusaha sukses bernama Al
Junaidi, dan Hasan Al Syadzili representasi dari asketis yang sukses dalama
pertanian. Dan Al Ghazali sendiri ialah zuhud yang mencakarkan dirinya dalam
dunia pena.
Jadi, zuhud—seperti sudah disinggung di atas—tidak harus meninggalkan
pernak-pernik duniawi secara total. Sebaliknya, seorang zuhud (atau sufi) juga
tetap harus berusaha tapi harta yang ia hasilkan hanya berada ”di luar”
sedangkan yang ”di dalam” tetap Tuhan. Ia sah-sah saja nongkrong di kantor,
duduk sebagai bisnis man atau di Senayan, bahkan tidak salah bila zahid
mempunya profesi ganda sebagai seorang pekerja pena— mengikuti jejak Al
Ghazali.
Bahkan semuanya suatu keharusan bagi asketis. Tapi sayang zahid di Indonesia
telah terkungkung dalam dunia ”mitos” dan kering dari kreatifitas. (lihat
kritik tarekat A. Najib Afandi dalam disertasi doktoralnya, "Al Harakah As
Sufiyah bi Indonesia wa Atsaruha Fi Al Falsafat Al Ahlak.")
اِزْهَدْ فِي الدُّنْياَ يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ بِمَا فِي أَيْدِ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ
”Berzuhudlah dalam (urusan) dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah. Dan berzuhudlah (jangan mengharap) dari apa-apa yang ada pada genggaman manusia, niscaya kamu akan disukai manusia.”
Secara umum, kita semua memang membutuhkan harta benda untuk menjaga kelangsungan hidup. Namun, jangan dijadikan alasan menghabiskan seluruh waktu hanya untuk bekerja dengan melupakan kewajiban-kewajiban sebagai makhluk hidup.
Tujuan hidup manusia bukan sekedar bekerja dan menumpuk harta benda, tetapi mencari kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adutud-daraini). Dunia hanyalah sebagai tempat menanam (mazra’ah) dengan melakukan amal saleh sebanyak mungkin sebagai bekal untuk kehidupan selajutnya—al dunia mazra'ah al akhirah.
Maka dari itu, sepatutnya dunia hanya dijadikan lahan untuk menanam amal shaleh dan harta yang dimanfaatkan di jalan Tuhan, agar di akhirat kita bisa menuai kebaikannya.
A. Muntaha Afandie
A. Muntaha Afandie - Direktur Al-Lisaniyat Institute
Dimuat
di Sahara, Agustus 2009 buletin KKMI (Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia) Libya

EmoticonEmoticon